To Live - Yu Hua: HIDUP LAYAKNYA PERJUANGAN DALAM PERMAINAN TAKDIR
Judul :
To Live “Hidup”
Penulis :
YU Hua
Penerjemah : Agustinus Wibowo
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Terbit :
2015
Tebal :
224 halaman
Saat
pertama kali membaca nama tokoh utama Fugui, mengapa terdengar mirip fungi?
Fugui dan fungi.
Fugui.
Tokoh utama yang diberkahi nama dari orang tuanya dengan arti keberuntungan
benar-benar beruntung dalam kisah hidupnya. Revolusi Tiongkok yang cepat dan
mendadak menjadikan rakyat dan kalangan bawah bahkan tidak memahami perbedaan
kondisi yang ada di negaranya. Fugui yang diceritakan anak tuan tanah mendadak
kehilangan tanah warisan untuk membayar hutang hobinya bermain judi dan rumah
bordil. Tapi siapa sangka kebangkrutan yang dialami menjadikan hidupnya mujur. Justru
Long Er, si tuan tanah baru harus merelakan nyawanya saat Gerakan
Reformasi Tanah Cina tengah dijalankan besar-besaran.
Layaknya
fungi (jamur) yang dapat hidup di manapun ia berada. Nasib mujurnya terus
dikantongi ketika tetiba ia dijaring paksa menjadi tentara nasionalis saat ke
kota mencari obat untuk ibunya. Ditengah kemelut perang saudara Tiongkok yang
memakan banyak nyawa prajurit, ia bertahan hidup dan kembali ke desa dengan
selamat. Begitupun seterusnya saat kelaparan melanda seluruh daratan Cina, ia
tetap mampu bertahan.
Namun
sayangnya keberuntungan hidup hanya ia miliki seorang diri tidak dengan
orang-orang sekitarnya. Mulai dari orang tua, anak lelakinya Youquing, kemudian
istri, disusul putri dan menantunya dijemput suratan kematian, tinggalah ia
dengan cucu semata wayangnya. Di tengah usianya yang tak lagi muda setidaknya
ia masih memiliki alasan hidup untuk terus merawat dan membesarkan cucunya
Kugen. Tapi kematian memang bukanlah tamu yang ramah dengan mengetuk pintu saat
bertamu. Pada akhirnya ia harus merelakan Kugen yang meninggal karena tersedak
bubur kacang buatannya.
Novel
setebal 224 halaman ini menyuguhkan cerita yang begitu jujur dan gamblang tentang
kehidupan Tiongkok prarevolusi dan pasca revolusi yang begitu kontras melalui
tokoh utamanya. Dari seorang tuan tanah yang terlihat jelas kesenjangan
sosialnya saat prarevolusi dengan kehidupan dengan status sama rata sama rasa
pasca revolusi. Paham-paham
nasionalisme dan demokrasi mulai masuk di kawasan Asia.pada abad ke-19 merebak
di daratan Cina dengan konsekuensi besar harus ditanggung rakyat.
Novel
yang penuh esensi dan filosofi hidup yang dalam. Pemaknaan hidup dari hidup itu
sendiri adalah pemberian yang mesti dijaga. “Hidupmu adalah pemberian dari
orang tuamu, jika kamu tidak ingin hidup, kamu harus tanya mereka dahulu”.
Betapa fundamental dari hidup adalah menhormati hidup itu sendiri. Fugui
memiliki banyak alasan untuk tidak bertahan dengan menyaksikan kepergian satu
persatu anggota keluarganya, namun ia memilih untuk tetap hidup.
Tidak
hanya getir, harapan, dan kebahagiaan di tengah-tengahnya. Penggambaran esensi etnis Cina di setiap
keturunannya yang terlihat jelas pada kutipan “Kelak saat ayam besar berubah
menjadi angsa, angsa besar berubah menjadi kambing, kambing besar berubah
menjadi sapi”. Betap hidup dipandang optimis untuk terus mengubah keadaan yang
selalu kita lihat ada di setiap orang Cina dimanapun berada.
Eksistensi
tokoh utama berbalut setting perkembangan Revolusi Cina yang berimbas pada
pergolakan sosial dan politik mengakibatkan krisis kelaparan di seluruh daratan
Cina termuat jelas di dalamnya. Isu-isu politik yang sensitif menjadikan novel ini sempat dilarang beredar.
Karya hebat tetap memiliki tantangannya sendiri saat melawan arus untuk
diperdengarkan dunia luar.


0 komentar: