To Live - Yu Hua: HIDUP LAYAKNYA PERJUANGAN DALAM PERMAINAN TAKDIR

21.44 Arini S Irawati 0 Comments


Judul               : To Live “Hidup”

Penulis            : YU Hua

Penerjemah     : Agustinus Wibowo

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Terbit              : 2015

Tebal               : 224 halaman

 

Saat pertama kali membaca nama tokoh utama Fugui, mengapa terdengar mirip fungi? Fugui dan fungi.

Fugui. Tokoh utama yang diberkahi nama dari orang tuanya dengan arti keberuntungan benar-benar beruntung dalam kisah hidupnya. Revolusi Tiongkok yang cepat dan mendadak menjadikan rakyat dan kalangan bawah bahkan tidak memahami perbedaan kondisi yang ada di negaranya. Fugui yang diceritakan anak tuan tanah mendadak kehilangan tanah warisan untuk membayar hutang hobinya bermain judi dan rumah bordil. Tapi siapa sangka kebangkrutan yang dialami menjadikan hidupnya mujur. Justru Long Er, si tuan tanah baru harus merelakan nyawanya saat Gerakan Reformasi Tanah Cina tengah dijalankan besar-besaran. 

Layaknya fungi (jamur) yang dapat hidup di manapun ia berada. Nasib mujurnya terus dikantongi ketika tetiba ia dijaring paksa menjadi tentara nasionalis saat ke kota mencari obat untuk ibunya. Ditengah kemelut perang saudara Tiongkok yang memakan banyak nyawa prajurit, ia bertahan hidup dan kembali ke desa dengan selamat. Begitupun seterusnya saat kelaparan melanda seluruh daratan Cina, ia tetap mampu bertahan.

Namun sayangnya keberuntungan hidup hanya ia miliki seorang diri tidak dengan orang-orang sekitarnya. Mulai dari orang tua, anak lelakinya Youquing, kemudian istri, disusul putri dan menantunya dijemput suratan kematian, tinggalah ia dengan cucu semata wayangnya. Di tengah usianya yang tak lagi muda setidaknya ia masih memiliki alasan hidup untuk terus merawat dan membesarkan cucunya Kugen. Tapi kematian memang bukanlah tamu yang ramah dengan mengetuk pintu saat bertamu. Pada akhirnya ia harus merelakan Kugen yang meninggal karena tersedak bubur kacang buatannya.

Novel setebal 224 halaman ini menyuguhkan cerita yang begitu jujur dan gamblang tentang kehidupan Tiongkok prarevolusi dan pasca revolusi yang begitu kontras melalui tokoh utamanya. Dari seorang tuan tanah yang terlihat jelas kesenjangan sosialnya saat prarevolusi dengan kehidupan dengan status sama rata sama rasa pasca revolusi. Paham-paham nasionalisme dan demokrasi mulai masuk di kawasan Asia.pada abad ke-19 merebak di daratan Cina dengan konsekuensi besar harus ditanggung rakyat.

Novel yang penuh esensi dan filosofi hidup yang dalam. Pemaknaan hidup dari hidup itu sendiri adalah pemberian yang mesti dijaga. “Hidupmu adalah pemberian dari orang tuamu, jika kamu tidak ingin hidup, kamu harus tanya mereka dahulu”. Betapa fundamental dari hidup adalah menhormati hidup itu sendiri. Fugui memiliki banyak alasan untuk tidak bertahan dengan menyaksikan kepergian satu persatu anggota keluarganya, namun ia memilih untuk tetap hidup.

Tidak hanya getir, harapan, dan kebahagiaan di tengah-tengahnya.  Penggambaran esensi etnis Cina di setiap keturunannya yang terlihat jelas pada kutipan “Kelak saat ayam besar berubah menjadi angsa, angsa besar berubah menjadi kambing, kambing besar berubah menjadi sapi”. Betap hidup dipandang optimis untuk terus mengubah keadaan yang selalu kita lihat ada di setiap orang Cina dimanapun berada. 

Eksistensi tokoh utama berbalut setting perkembangan Revolusi Cina yang berimbas pada pergolakan sosial dan politik mengakibatkan krisis kelaparan di seluruh daratan Cina termuat jelas di dalamnya. Isu-isu politik yang sensitif  menjadikan novel ini sempat dilarang beredar. Karya hebat tetap memiliki tantangannya sendiri saat melawan arus untuk diperdengarkan dunia luar.

Novel epik yang akan mengajakmu untuk merenung tentang apa yang sudah dan belum kamu keluhkan tentang hidup. Menghantarkanmu berdialog pada diri sendiri tentang hidup yang telah dijalani. Terasa dingin dan getir pada setiap barisan ceritanya, namun hangat saat menjumpai pandangan hidup tokoh utamanya. Bahwa hidup tetaplah hidup yang dijalani sebagaimana tangan-tangan takdir membawanya. Fugui dan fungui yang mampu bertahan dalam keadaan apapun saat menjalani garis takdirnya.


 

You Might Also Like

0 komentar: