Resensi: Gadis Jeruk - Realisme Vs Imajinatif
Judul Buku : Gadis Jeruk
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penerbit : Mizan
Tahun terbit : Juli 2011 (Gold Edition)
Tebal : 252 halaman
Realisme Vs Imajinatif
Apa
reaksimu mendapati surat “wasiat” dari seorang Ayah yang telah tiada belasan
tahun lalu?
Novel adalah “keratan kehidupan”1. Menulis novel adalah meramu petikan-petikan kisah kehidupan
yang bertebaran, dengan menambahkan tokoh sebagai pembentuk serta menuangkan
alur agar berkesan mengalir dan bukan menggurui. Hasil akhirnya, keratan
kehidupan yang realistis dan perubahan sebagai pembaruan hidup atas imajinasi
penulisnya. Lalu bagaimana dengan novel Jostein Gaarder (JG)?
Memasuki halaman awal Gadis
Jeruk, pembaca digiring memasuki dunia lain—dongeng. Dan itu sesuai dengan
julukan JG—pendongeng ulung.
Fokus cerita ada pada surat “wasiat” untuk putranya Georg
Roed dari Jan Olav (ayah) yang bertemu dengan si Gadis Jeruk. Jangan mengira
ini adalah novel cengeng dan manja seperti kebanyakan. Letupan-letupan kisah
yang mengejutkan akan ditemui di sepanjang cerita. Georg Roed sebagai tokoh
utama (aku) akan memandu pembaca berkeliling dalam kehidupannya selama lima
belas tahun terakhir yang hanya memakan waktu makan malamnya saja.
Garis takdir Jan Olav dengan si Gadis jeruk bermula di dalam
trem. Berpandangan mata, kejadian menabrak dan menghamburkan sekantong penuh
jeruk menghiasi banyak kebetulan unik sekaligus misterius. Unik, karena
pertemuan justru di tempat-tempat umum, bukan di kampus, kantor, atau rumah,
dan kesemua pertemuan hanya menyisakan sepotong-dua potong kalimat. Misterius,
karena si Gadis Jeruk tampak tidak teraih, tidak dikenali, dan tidak mudah
diterka. Kisah cinta Jan Olav adalah kisah cinta penuh pemaknaan hidup dan
penggapaian cita-cita.
Bukan Fatalisme
Membaca Gadis Jeruk karya JG mengingatkan saya pada tulisan Ryunosuke
Akutagawa (RA) atas karya terakhirnya Kappa.
JG yang berlatar belakang seorang guru filsafat pandai menempatkan pembaca pada
“kewarasannya” dan maju lebih jauh pada esensi hidup sebagai sebuah permulaan,
akhir, atau pilihan?
Akankah
aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa akan
tiba-tiba dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang
memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan
hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini? Kita masuk ke dalam dongeng
besar ini hanya untuk melihat ceritanya berakhir! (hal. 210)
Jan Olav dihadapkan pada perhitungan akhir waktu hidup karena
penyakit yang tidak dapat ditawar, menjadikannya putus asa dengan perasaan “hampir
bersalah” atas kelahiran aku (Georg Roed).
Sama-sama menyoroti esensi keberadaan hidup manusia sebagai
satu diantara jutaan kehidupan makhluk di planet bernama bumi. RA menyerah pada
kekalahan dengan menetapkan tokohnya sebagai penderita kejiwaan, JG dalam novel
ini menemukan resolusi dengan kapsul waktu—surat, maka Gadis Jeruk tidak menempatkan fatalisme sebagai jawaban.
Realisme atau Imajinatif (?)
Di awal dikisahkan bahwa Georg Roed adalah anak berusia lima
belas tahun dari keluarga yang hangat penuh kasih lengkap dari kakek-nenek,
seorang Ibu dan adik dari ayah tiri yang sangat nyata keberadaannya.
Selanjutnya semua kisah serasa dibalik tertidur untuk mendengar gadis jeruk
dengan mantel anorak tua dan
sekantong besar jeruk seberat sepuluh kilogram yang begitu fiktif untuk ditemui
dengan berbagai kemungkinan.
Jika kami
benar-benar telah menjalani hidup bersama, kupikir barangkali itu berupa
kehidupan dua ekor tupai di sebuah pohon, dan bayangan menjalani hidup yang
riang gembira sebagai tupai bersama gadis jeruk yang misterius ini sangatlah
menarik. (hal. 37)
Novelis yang baik tidak menempatkan karyanya sebagai epigon.
JG dalam Gadis Jeruk memulangkan
teori satu dasar konflik pada penggarapan tulisannya. JG yang selalu menyisipkan
imajinasi dalam realisme, menjadikan novelnya selalu hidup dan tidak
membosankan untuk dibaca. Setia dengan gaya cerita di dalam cerita, novel yang
diterjemahkan ke dalam 53 bahasa berbeda di berbagai negara ini, menyusupkan
pengetahuan baru diluar materi filsafatannya. Tetapi tidak seperti dalam novel
JG yang lainnya, agaknya penulis terlampau metergesa-gesa memunculkan petunjuk
gadis jeruk. Alhasil, terlampau dini pembaca akan mampu menebak siapa gadis
jeruk tersebut.
Etnografi ala Barat
Sebuah karya sastra akan selalu
menampilkan sisi lain kehidupan. Novel setebal 252 ini menempatkan relisme
berbalut kultur ala Barat yang kental. Cara berpikir, cara pandang, sikap, dan
reaksi menghadapi kehidupan yang berlatar katedral, trem, pasar, kafe, salju,
natal, paskah, dan sampanye yang apik mengiringi renik peristiwa. Pembaca akan
dibawa menyusuri jalan-jalan di Oslo, taman yang dipenuhi pohon jeruk di
Sevilla, hingga perjalanan menuju Greenland.
Novel yang bergenre fantasi ini lebih menampilkan tokoh aku
pada fase pra-pubertas yang masih meraba-raba tentang identitas, karakter, dan
cara berpikir dengan bagaimana orang tua harus bersikap dan memahami anak atas
siklus yang harus dihadapi dan dilaluinya.
Tidak hanya itu, penulis seolah mencerminkan kehidupannya
sendiri yang memang lahir dan besar di Oslo—Norwegia dalam novel yang
diterbitkan sebagai gold edition di
tahun 2011 ini. Sarat dengan kehidupan Barat yang bebas—terbuka.
Novel sastra yang cocok untuk remaja ataupun sebagai rujukan
bagi orang tua dalam mengasuh anak dengan pola pikir yang lebih modern.
Kehadiran novel ini mampu menampilkan permenungan akan
sejauh mana kita menghargai entitas-entitas kecil atas keberadaan diri, betapa
bernilainya waktu untuk menemukan tujuan hidup. Sebuah tulisan mengenai hakikat
sebuah kehidupan. Warna baru dalam penggarapan saya kira hak setiap pembaca
untuk menilai dan bukanlah ihwal yang patut untuk didebat. Sekian.
NB: Resensi memenangkan Lomba Menulis Resensi Buku Perpustakaan Universitas PGRI Semarang 2015
Kudus, 19042015
NB: Resensi memenangkan Lomba Menulis Resensi Buku Perpustakaan Universitas PGRI Semarang 2015


0 komentar: