Resensi: Gadis Jeruk - Realisme Vs Imajinatif

18.35 Arini S Irawati 0 Comments


Judul Buku          : Gadis Jeruk
Penulis                 : Jostein Gaarder
Penerjemah          : Yuliani Liputo
Penerbit               : Mizan
Tahun terbit         : Juli 2011 (Gold Edition)
Tebal                   : 252 halaman


Realisme Vs Imajinatif

Apa reaksimu mendapati surat “wasiat” dari seorang Ayah yang telah tiada belasan tahun lalu?

Novel adalah “keratan kehidupan”1. Menulis novel adalah meramu petikan-petikan kisah kehidupan yang bertebaran, dengan menambahkan tokoh sebagai pembentuk serta menuangkan alur agar berkesan mengalir dan bukan menggurui. Hasil akhirnya, keratan kehidupan yang realistis dan perubahan sebagai pembaruan hidup atas imajinasi penulisnya. Lalu bagaimana dengan novel Jostein Gaarder (JG)?   
Memasuki halaman awal Gadis Jeruk, pembaca digiring memasuki dunia lain—dongeng. Dan itu sesuai dengan julukan JG—pendongeng ulung.
Fokus cerita ada pada surat “wasiat” untuk putranya Georg Roed dari Jan Olav (ayah) yang bertemu dengan si Gadis Jeruk. Jangan mengira ini adalah novel cengeng dan manja seperti kebanyakan. Letupan-letupan kisah yang mengejutkan akan ditemui di sepanjang cerita. Georg Roed sebagai tokoh utama (aku) akan memandu pembaca berkeliling dalam kehidupannya selama lima belas tahun terakhir yang hanya memakan waktu makan malamnya saja.  
Garis takdir Jan Olav dengan si Gadis jeruk bermula di dalam trem. Berpandangan mata, kejadian menabrak dan menghamburkan sekantong penuh jeruk menghiasi banyak kebetulan unik sekaligus misterius. Unik, karena pertemuan justru di tempat-tempat umum, bukan di kampus, kantor, atau rumah, dan kesemua pertemuan hanya menyisakan sepotong-dua potong kalimat. Misterius, karena si Gadis Jeruk tampak tidak teraih, tidak dikenali, dan tidak mudah diterka. Kisah cinta Jan Olav adalah kisah cinta penuh pemaknaan hidup dan penggapaian cita-cita.

Bukan Fatalisme
          Membaca Gadis Jeruk karya JG mengingatkan saya pada tulisan Ryunosuke Akutagawa (RA) atas karya terakhirnya Kappa. JG yang berlatar belakang seorang guru filsafat pandai menempatkan pembaca pada “kewarasannya” dan maju lebih jauh pada esensi hidup sebagai sebuah permulaan, akhir, atau pilihan?

Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa akan tiba-tiba dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini? Kita masuk ke dalam dongeng besar ini hanya untuk melihat ceritanya berakhir! (hal. 210)

Jan Olav dihadapkan pada perhitungan akhir waktu hidup karena penyakit yang tidak dapat ditawar, menjadikannya putus asa dengan perasaan “hampir bersalah” atas kelahiran aku (Georg Roed).
Sama-sama menyoroti esensi keberadaan hidup manusia sebagai satu diantara jutaan kehidupan makhluk di planet bernama bumi. RA menyerah pada kekalahan dengan menetapkan tokohnya sebagai penderita kejiwaan, JG dalam novel ini menemukan resolusi dengan kapsul waktu—surat, maka Gadis Jeruk tidak menempatkan fatalisme sebagai jawaban.

Realisme atau Imajinatif (?)
Di awal dikisahkan bahwa Georg Roed adalah anak berusia lima belas tahun dari keluarga yang hangat penuh kasih lengkap dari kakek-nenek, seorang Ibu dan adik dari ayah tiri yang sangat nyata keberadaannya. Selanjutnya semua kisah serasa dibalik tertidur untuk mendengar gadis jeruk dengan mantel anorak tua dan sekantong besar jeruk seberat sepuluh kilogram yang begitu fiktif untuk ditemui dengan berbagai kemungkinan.

Jika kami benar-benar telah menjalani hidup bersama, kupikir barangkali itu berupa kehidupan dua ekor tupai di sebuah pohon, dan bayangan menjalani hidup yang riang gembira sebagai tupai bersama gadis jeruk yang misterius ini sangatlah menarik. (hal. 37)

Novelis yang baik tidak menempatkan karyanya sebagai epigon. JG dalam Gadis Jeruk memulangkan teori satu dasar konflik pada penggarapan tulisannya. JG yang selalu menyisipkan imajinasi dalam realisme, menjadikan novelnya selalu hidup dan tidak membosankan untuk dibaca. Setia dengan gaya cerita di dalam cerita, novel yang diterjemahkan ke dalam 53 bahasa berbeda di berbagai negara ini, menyusupkan pengetahuan baru diluar materi filsafatannya. Tetapi tidak seperti dalam novel JG yang lainnya, agaknya penulis terlampau metergesa-gesa memunculkan petunjuk gadis jeruk. Alhasil, terlampau dini pembaca akan mampu menebak siapa gadis jeruk tersebut.

Etnografi ala Barat
          Sebuah karya sastra akan selalu menampilkan sisi lain kehidupan. Novel setebal 252 ini menempatkan relisme berbalut kultur ala Barat yang kental. Cara berpikir, cara pandang, sikap, dan reaksi menghadapi kehidupan yang berlatar katedral, trem, pasar, kafe, salju, natal, paskah, dan sampanye yang apik mengiringi renik peristiwa. Pembaca akan dibawa menyusuri jalan-jalan di Oslo, taman yang dipenuhi pohon jeruk di Sevilla, hingga perjalanan menuju Greenland.
Novel yang bergenre fantasi ini lebih menampilkan tokoh aku pada fase pra-pubertas yang masih meraba-raba tentang identitas, karakter, dan cara berpikir dengan bagaimana orang tua harus bersikap dan memahami anak atas siklus yang harus dihadapi dan dilaluinya.
Tidak hanya itu, penulis seolah mencerminkan kehidupannya sendiri yang memang lahir dan besar di Oslo—Norwegia dalam novel yang diterbitkan sebagai gold edition di tahun 2011 ini. Sarat dengan kehidupan Barat yang bebas—terbuka.
Novel sastra yang cocok untuk remaja ataupun sebagai rujukan bagi orang tua dalam mengasuh anak dengan pola pikir yang lebih modern.
Kehadiran novel ini mampu menampilkan permenungan akan sejauh mana kita menghargai entitas-entitas kecil atas keberadaan diri, betapa bernilainya waktu untuk menemukan tujuan hidup. Sebuah tulisan mengenai hakikat sebuah kehidupan. Warna baru dalam penggarapan saya kira hak setiap pembaca untuk menilai dan bukanlah ihwal yang patut untuk didebat. Sekian.

Kudus, 19042015

NB: Resensi memenangkan Lomba Menulis Resensi Buku Perpustakaan Universitas PGRI Semarang 2015




You Might Also Like

0 komentar: