Bualan Tahun Baru

18.14 Arini S Irawati 0 Comments


Seakan tak ada jenuh, tiap tahun orang-orang merayakan tahun baru. Suatu perayaan menanggalkan masa satu dekade dan menandai dimulainya hitungan dekade selanjutnya. Hiruk pikuk kemeriahan perayaan semakin berwarna dengan dengung terompet, hujan kembang api bercampur wangi malam. Adalah ekspresi diri, canda, tawa, bertumpah ruah bersama harapan untuk menjadikan tengah malam kian meriah dan bersemangat untuk menyambut detikan awal tahun baru dalam hitungan mundur detik-detik terakhir penutupan tahun.

Disadari atau tidak, perayaan tahun baru hanyalah “batas waktu yang imajinatif”. Jika disadari, waktu manusia adalah sama. Awal tahun, pertengahan tahun ataupun akhir tahun sama saja, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Menjadi waktu bermanfaat jika kita menjalani kehidupan dengan kesungguhan untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Jadi pada dasarnya, berhasil tidaknya hidup bergantung pada apa yang saat ini kita kerjakan. Lantas mengapa banyak orang merayakan malam penggantungan harapan/cita-cita/angan-angan yang dianggap spesial dan terlalu “wah”, kan?

Kita beranggapan bahwa tahun baru akan membawa perubahan besar dalam kehidupan. Kenyataan yang ada adalah harapan-harapan yang kita gantungkan di awal tahun selalu terpaut oleh keadaan tahun lalu. Tahun baru bukan berarti bahwa masa-masa yang lalu telah hilang, kabur dari kenyataan. Bukan berarti anggapan tentang tahun baru mengubah segala sesuatunya tidak dapat dibenarkan. Kehidupan berlangsung dari masa lampau melanjutkan masa depan di masa sekarang. Sejarah menjadikan kita lebih bijak memang benar adanya. Karena kita dapat mengambil pelajaran dari kesalahan yang kita perbuat.

Memandang masa lalu untuk masa depan, harusnya dengan bijak kita sikapi kehidupan dengan merubah sikap. Kuncinya adalah lebih memahami diri, dengan mengoreksi diri sebelum melakukan perbuatan, maksudnya berfikir sebelum bertindak. Jangan sampai apa yang akan kita lakukan adalah penyesalan sebagai ujungnya. Yang kedua adalah mengoreksi diri setelah melakukan perbuatan dalam arti introspeksi diri.

Dalam hidup diciptakannya siang dan malam dalam satu hari. Satu tahun kita melewati tiga ratus enam puluh hari. Di sela-sela waktu tersebut, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk ketenangan. Dan disaat itulah, otak, akal dan perasaan kita istirahatkan untuk kembali ke posisi netral, waktu yang tepat untuk merefleksikan diri pada apa yang telah kita perbuat.

Menganggap tahun baru bukan saat untuk menggantungkan harapan, bukan berarti menjadikan kita pribadi yang pesimis. Karena adanya angan-anganlah yang menjadikan keberhasilan itu terlihat nyata. Dari sanalah kita bangkitkan kobar semangat untuk menjalani hidup. Jika kita menganggap bahwa manusia telah memiliki takdirnya sehingga kita hanya berpasrah diri. Itulah letak kebodohan kita sebagai manusia. Manusia diciptakan dengan otak, akal dan hati untuk mengubah keadaan dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mengolah yang ada di depan mata (kesempatan) menjadikan sebuah kesuksesan. Jika berpikir bahwa kita tidak dapat mendahului takdir Tuhan, ketahuilah bahwasanya tidak ada seorangpun yang dapat melampaui-Nya. Karena kita adalah ciptaan bukan pencipta. Semuanya bergantung pada diri kita, menempatkan dimana letak keberadaan kita dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Harus disadari, tahun baru bukanlah ajang untuk berangan-angan “mudah-mudahan”, karena semua kembali pada diri bagaimana kita mewujudkan angan-angan itu untuk menjadi sebuah kenyataan. Tahun baru sejatinya adalah tantangan untuk membuktikan dengan segala kekurangan yang ada pada diri, dengan menyikapi kekurangan tersebut agar tertutupi dengan kelebihan manusia yang telah diberikan Tuhan yaitu adanya otak, akal, dan hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang pasti, tahun baru bukan menjadikan usia kita bertambah, tetapi harus menyadari bahwa semakin sempitnya jatah kita menikmati waktu.

Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Buletin Sastra Keris Edisi 12. UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, hlm 5

*Melalui editan penulis

You Might Also Like

0 komentar: