Bualan Tahun Baru
Seakan tak ada jenuh, tiap tahun orang-orang merayakan tahun baru. Suatu perayaan menanggalkan masa satu dekade dan menandai dimulainya hitungan dekade selanjutnya. Hiruk pikuk kemeriahan
perayaan semakin berwarna dengan dengung terompet, hujan kembang api bercampur wangi
malam. Adalah ekspresi diri, canda, tawa, bertumpah ruah bersama harapan untuk
menjadikan tengah malam kian meriah dan bersemangat untuk menyambut detikan
awal tahun baru dalam hitungan mundur detik-detik terakhir penutupan tahun.
Disadari atau tidak,
perayaan tahun baru hanyalah “batas waktu yang imajinatif”. Jika disadari,
waktu manusia adalah sama. Awal tahun, pertengahan tahun ataupun akhir tahun
sama saja, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Menjadi waktu bermanfaat jika
kita menjalani kehidupan dengan kesungguhan untuk menjadi pribadi yang
berkualitas. Jadi pada dasarnya, berhasil tidaknya hidup bergantung pada apa
yang saat ini kita kerjakan. Lantas mengapa banyak orang merayakan malam penggantungan
harapan/cita-cita/angan-angan yang dianggap spesial dan terlalu “wah”, kan?
Kita beranggapan
bahwa tahun baru akan membawa perubahan besar dalam kehidupan. Kenyataan yang
ada adalah harapan-harapan yang kita gantungkan di awal tahun selalu terpaut
oleh keadaan tahun lalu. Tahun baru bukan berarti bahwa masa-masa yang lalu
telah hilang, kabur dari kenyataan. Bukan berarti anggapan tentang tahun baru
mengubah segala sesuatunya tidak dapat dibenarkan. Kehidupan berlangsung dari
masa lampau melanjutkan masa depan di masa sekarang. Sejarah menjadikan kita
lebih bijak memang benar adanya. Karena kita dapat mengambil pelajaran dari
kesalahan yang kita perbuat.
Memandang masa lalu
untuk masa depan, harusnya dengan bijak kita sikapi kehidupan dengan merubah
sikap. Kuncinya adalah lebih memahami diri, dengan mengoreksi diri sebelum melakukan
perbuatan, maksudnya berfikir sebelum bertindak. Jangan sampai apa yang akan
kita lakukan adalah penyesalan sebagai ujungnya. Yang kedua adalah mengoreksi
diri setelah melakukan perbuatan dalam arti introspeksi diri.
Dalam hidup diciptakannya siang dan malam dalam satu hari. Satu
tahun kita melewati tiga ratus enam puluh hari. Di sela-sela waktu tersebut,
tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk ketenangan. Dan disaat itulah, otak,
akal dan perasaan kita istirahatkan untuk kembali ke posisi netral, waktu yang
tepat untuk merefleksikan diri pada apa yang telah kita perbuat.
Menganggap tahun baru bukan saat untuk menggantungkan
harapan, bukan berarti menjadikan kita pribadi yang pesimis. Karena adanya
angan-anganlah yang menjadikan keberhasilan itu terlihat nyata. Dari sanalah
kita bangkitkan kobar semangat untuk menjalani hidup. Jika kita menganggap
bahwa manusia telah memiliki takdirnya sehingga kita hanya berpasrah diri.
Itulah letak kebodohan kita sebagai manusia. Manusia diciptakan dengan otak,
akal dan hati untuk mengubah keadaan dari yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Mengolah yang ada di depan mata (kesempatan) menjadikan sebuah kesuksesan. Jika
berpikir bahwa kita tidak dapat mendahului takdir Tuhan, ketahuilah bahwasanya
tidak ada seorangpun yang dapat melampaui-Nya. Karena kita adalah ciptaan bukan
pencipta. Semuanya bergantung pada diri kita, menempatkan dimana letak
keberadaan kita dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Harus disadari, tahun baru bukanlah ajang untuk
berangan-angan “mudah-mudahan”, karena semua kembali pada diri bagaimana kita
mewujudkan angan-angan itu untuk menjadi sebuah kenyataan. Tahun baru sejatinya
adalah tantangan untuk membuktikan dengan segala kekurangan yang ada pada diri,
dengan menyikapi kekurangan tersebut agar tertutupi dengan kelebihan manusia
yang telah diberikan Tuhan yaitu adanya otak, akal, dan hati untuk menjadi
pribadi yang lebih baik. Dan yang pasti, tahun baru bukan menjadikan usia kita
bertambah, tetapi harus menyadari bahwa semakin sempitnya jatah kita menikmati waktu.
Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Buletin Sastra Keris Edisi 12. UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, hlm 5
*Melalui editan penulis
Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Buletin Sastra Keris Edisi 12. UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, hlm 5
*Melalui editan penulis


0 komentar: