Sepetak Pagi
Ini pagi yang menyala. Waktuku masih terpetak-petak seputar buku, laju, dan lagu.
Pada buku, aku membaca kamu yang masih berupa nama rindu. Serupa aksara yang takkan terbaca tanpa adanya hurufku untuk disandingkan.
Pada laju, aku hanya mengenal satu jalur. Menuju ke arahmu. Tapi nyatanya aku selalu tersesat pada tumpukan rambu-rambu kata harap. Sepertinya sengaja agar kau datang mencariku. Melalui remah-remah kenangan yang pernah kita tinggalkan saat menjamu pertemuan, dulu.
Pada lagu, aku berharap tak sekadar menuliskan partitur untuk menyapa telinga kalbumu. Karena aku meyakini, bahwa Tuhan terlampau merdu menciptakanmu dengan nada-nada terindahNya.
Sebab itu, pagiku ingin kubingkai dengan senjamu. Dimana lipatan jarak ingin kusisipkan di bawah petakan pagi ini.
-Januari 2017

0 komentar: