Sepetak Pagi

 Ini pagi yang menyala. Waktuku masih terpetak-petak seputar buku, laju, dan lagu.

Pada buku, aku membaca kamu yang masih berupa nama rindu. Serupa aksara yang takkan terbaca tanpa adanya hurufku untuk disandingkan.

Pada laju, aku hanya mengenal satu jalur. Menuju ke arahmu. Tapi nyatanya aku selalu tersesat pada tumpukan rambu-rambu kata harap. Sepertinya sengaja agar kau datang mencariku. Melalui remah-remah kenangan yang pernah kita tinggalkan saat menjamu pertemuan, dulu.

Pada lagu, aku berharap tak sekadar menuliskan partitur untuk menyapa telinga kalbumu. Karena aku meyakini, bahwa Tuhan terlampau merdu menciptakanmu dengan nada-nada terindahNya.

Sebab itu, pagiku ingin kubingkai dengan senjamu. Dimana lipatan jarak ingin kusisipkan di bawah petakan pagi ini.

-Januari 2017

Candi Prambanan dan Roro Jonggrang - Cerita Rakyat Jawa Tengah


Alkisah terjadilah peperangan antar kerajaan. Raja Prambanan yang kalah berperang melawan Bandung Bondowoso gugur meninggalkan putri nan jelita bernama Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso dari kerajaan Pengging berniat menyunting Roro Jonggrang  untuk menguasai kerajaan Prambanan. 

Namun, Roro Jonggrang menolak mentah-mentah lamaran Bandung Bondowoso. Akibatnya ia pun dikurung di dalam istana, bersama Bi Sumi dan dayang-dayang lain.

Hari berlalu silih berganti, Bandung Bondowoso terus meluluhkan hati Roro Jonggrang untuk menikah dengannya. Roro Jonggrang pun lelah mendengar permintaan tersebut dan mengatur taktik.

"Aku bersedia menjadi permaisurimu, dengan satu syarat, bila berhasil mewujudkannya. Namun jika gagal, izinkanlah aku pergi dari sini," kata Roro Jonggrang pada Bandung Bondowoso.

"Aku pasti mewujudkan syaratmu. Jika gagal, aku yang akan mengembalikan kerajaan ini padamu," tegas Bandung Bondowoso menjawab.

"Baiklah aku melihat tekadmu kuat. Maka buatkan aku seribu candi,  semuanya harus selesai sebelum matahari terbit," ujarnya.

Bandung Bondowoso memutar otak untuk dapat memenuhi sayarat yang diajukan Roro Jonggrang. Ia pun teringat pasukan jin. Membangun seribu candi dalam waktu semalam tentu perkara kecil bagi bangsa jin. Bandung Bondowoso pun memanggil mereka.

"Kami bersedia membantumu, tapi ingatlah waktu kami hanya sampai fajar menyingsing di ufuk timur," kata bangsa Jin 

Dalam waktu singkat, bangunan candi mulai tampak. Roro Jonggrang pun panik dan gelisah. 

"Bi Sumi, apa yang harus aku lakukan? Lihatlah, candi-candi hampir siap," kata Roro Jonggrang pada Bi Sumi di dalam istana.

Bi Sumi mulai berpikir dan menemukan suatu ide. Diperintahkannya dayang-dayang istana dan pengawal setia kerajaan Prambanan untuk mengumpulkan jerami dari berbagai sawah.

Bi Sumi menempelkan telunjuknya di bibir dan berbisik pada Roro Jonggrang, "Kita akan membakar jerami, sehingga langit terkesan menjadi merah, pertanda matahari sudah terbit," katanya.

Bi Sumi juga memerintahkan para dayang untuk menumbuk lesung. Ayam-ayam berkokok keras mendengar suara lesung bertalu-talu dan semburat merah di langit.

"Kukuruyukk...kukuruyukkk..."

"Kami harus pergi!" teriak para jin sambil bergegas pergi mendengar kokok ayam.

Bandung Bondowoso tertegun dan yakin seribu candi telah selesai dibangun. Ia mencari Roro Jonggrang untuk memperlihatkan candi-candi tersebut.

"997, 998, 999, dan.... jumlahnya kurang satu!" kata Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso tak percaya dan menghitungnya sendiri. Benar adanya, candi hanya berjumlah 999.

"Ini tidak mungkin. Aku tak pernah kalah dalam hal apapun!" Murka Bandung Bondowoso.

"Tapi jumlahnya memang kurang satu. Kau harus menepati janjimu," kata Roro Jonggrang yang mulai ketakutan.

"Jika memang candi ini berjumlah 999, maka sempurnakanlah menjadi seribu. Jadilah kau patung batu wahai Roro Jonggrang!" Sabda Bandung Bondowoso.

Hingga sekarang, candi-candi tersebut disebut sewu candi komplek candi Prambanan masih berdiri megah di wilayah Klaten, Jawa Tengah. Kisah Roro Jonggrang turun temurun menjadi cerita rakyat yang melegenda.

Malin Kundang - Cerita Rakyat Sumatra Barat



            Tersebut seorang anak cerdas namun banyak tingkah nakalnya bernama Malin Kundang di Sumatra Barat. Ia adalah anak desa miskin yang serba kekurangan. Setiap hari ia menghabiskan waktu dengan membantu Mamaknya dengan membantu mengeringkan ikan asin untuk membantu ekonomi keluarga. Namun tak jarang saat ia merasa bosan ia akan mengeluh dan melampiaskan amarahnya dengan memukul-mukul hewan atau benda yang ada di sekitarnya hingga sempat jatuh dan mendapat luka di tangan kanannya hingga membekas. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bergantilah tahun. Seiring waktu Malin kecil beranjak dewasa, ia sering ke dermaga melihat kapal-kapal laut singgah atau bertolak untuk berlayar di lautan luas. Suatu hari ia memutuskan diri untuk merantau. Ia ingin keluar dari kemiskinan yang telah lama ia rasakan sejak kecil. Karenanya ia meminta izin kepada Mamaknya agar diperbolehkan ikut melaut bersama kapal yang akan segera berlayar. Awalnya Mamak tak setuju, namun Malin bersikukuh untuk tetap merantau dan berjanji saat ia telah sukses dan menjadi orang terpandang ia akan kembali ke kampung halamannya untuk menjemputnya.

Dengan berat hati Mamak mengantar Malin ke dermaga dengan peuh tangisan. Ia akan sangat merindukan anaknya nan jauh di mata. Ia berikan bekal dan petuah kebajikan agar sang anak selamat selama berada di kapal. Ia lambaikan tangan dengan derai air mata penuh isak tangis untuk mengantar keberangkatan Malin Kundang. Malin membalas lambaian tangan Mamaknya dengan rasa semangat penuh harapan.

Selama berada di kapal Malin belajar banyak hal baru. Ia bertemu dengan banyak awak kapal yang memiliki keahlian beragam di setiap bagian tugasnya. Ia kemudian bertemu dengan pemilik kapal dan mendapatkan pekerjaan di kapalnya. Hari terus berganti Malin yang semula menjadi awak kapal biasa lama kelamaan dengan keuletan dan sikap mau belajar menjadi tangan kanan pemilik kapal dagang. Hingga suatu hari karena rasa percaya penuhnya kepada Malin ia dinikahkan denan putrinya dan jadilah seorang yang sukses untuk meneruskan usaha perdagangan dengan transportasi kapalnya.

Kabar Malin yang telah sukses dan menjadi saudagar kapal kaya raya sampailah ke telinga Mamaknya dan orang-orang desanya. Dengan rasa syukur dan panjatan doa yang tak henti-hentinya ia panjatkan setiap hari berbuah manis dengan kesuksesan Malin. Ia menangis haru mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Pengasih.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan Ibu dan telah menikah dengan putrid saudagar kaya, berita saudagar Malin akan singgah di dermaga dekat kampungnyapun menyebar dan membuat seisi desa bergembira. Orang-orang membicarakannya dan menyambut antusias untuk bertemu dengannya. Mereka bangga bahwa salah seorang dari desa mereka merantau dan menjadi saudagar kaya mengharumkan nama desanya. Ibu Malin bersiap-siap menyambutnya menunggu di dermaga penuh rasa bahagia.


Sesampainya kapal Malin di dermaga, Mamaknya pergi kea rah kapal berharap bertemu dengan sang anak yang telah lama tak ia pandang. Setelah cukup lama mencari-cari ia melihat seorang lelaki tegap nan gagah berjalan berjalan bergadengan dengan seorang wanita rancak. Lelaki tersebut memiliki bekas luka di tangan kanannya, maka yakinlah si Mamak bahwa ia adalah Malin putra semata wayangnya.

“Malin… Malin Kundang anakku, telah begitu lama Kau tinggalkan Mamak,” katanya sembari memeluk sang Anak. Tetapi melihat orang tua nan lusuh berpakaian compang-camping Malin menjadi marah dan malu kepada istri yang berada di sampingnya.
“ Siapa Kau hai orang tua, lepaskan aku dari pelukanmu! Aku tak pernah mengenalmu… Enyahlah Kau dari hadapanku!” jawabnya dengan nada tinggi nan keras.

Seketika sang Mamak meneteskan air mata yang telah membasahi pipi. Ia tak pernah menyangka bahwa anak yang selalu ia doakan siang dan malam tak mengakuinya. Dadanya penuh sesak dan sakit hati yang ia terima atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Membesarkan putranya penuh kasih sedari kecil hingga dewasa. Orang-orang di desanyapun terkejut dan kecewa atas perlakuan Malin kepada Mamaknya. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang mereka kagumi karena telah mengharumkan nama desa ternyata sombong dan angkuh.

Malin yang tk mengindahkan Mama dan mata-mata orang yang kecewa terhadapnya melenggang begitu saja menuju tempat peristirahatan dekat dermaga. Mamaknya pulang dengan penuh tangis dan rasa sakit hati. Hingga ia mengadu kepada Tuhan “ Oh Tuhan, benarkah ia Malin anakku. Mengapa ia begitu berbeda dengan anakku yang dulu. Mengapa hatinya sekeras batu tak mengakuiku sebagai mamaknya. Maka aku berserah diri kepadamu, wahai Tuhan yang Maha Kuasa” ratapnya.

Maka saat kapal Malin telah selesai urusan dagangnya di dermaga ia kembali ke kapal dan bertolak untuk berlayar kembali. Langit yang semula cerah berangsur-angsur berubah mendung mengirim angin dan ombak besar hingga mengombang-ambingkan kapal Malin. Malin beserta awak kapalnya kalang kabut berusaha mengimbangkan kapal agar mampu melewati hujan badai yang datang tiba-tiba.
“Wahai Nahkoda mengapa kapal bergerak tak beraturan, cepat seimbangkan kapalku atau kalian semua tak kupekerjakan kembali…!” Mereka yang telah bekerja lama tahu wata Malin yang keras dan sombong. Mereka telah berusaha, namun naas takdir berkata lain. Malin, istri dan seluruh awak kapalnya tenggelam dan karam beserta kapalnya. Saat tenggelam lambat laun tubuh Malin mengeras sekeras batu. Orang-orang menyebut batu tersebut dengan Batu Malin Kundang yang menyerupai orang telungkup sujud seakan ingin meminta maaf kepada Mamaknya.


Asal – Usul Danau Toba - Cerita Rakyat Sumatra Utara

 

                                                                gambar: Hi-Fest

Di Sumatra Utara hidup seorang petani pekerja keras. Ia hidup sebatang kara, sudah tak memiliki orang tua ataupun sanak saudara. Setiap pagi ia akan berangkat ke ladang mengolah tanah miliknya dan saat pulang akan mencari ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satu hari ia hendak mencari ikan di sungai dekat rumah dengan senjata andalannya yakni kail, umpan cacing, dan wadah ikan. Berangkatlah ia dengan semangatnya. Sesampainya di tepi sungai, kail ia lempar jauh. Sembari menunggu petani tersebut berdoa dengan menengadahkan tangan, “Ya Tuhan, semoga tangkapan ikanku banyak hari ini”. Selepas berdoa, kail Nampak bergoyang-goyang. Ditariklah kail yang ia lempar dan betapa gembiranya ia mendapati ikan yang besar dan nampak cantik sisiknya.

Setelah ia lepaskan kail ia masukkan ikan tangkapan ke wadahnya dengan tambahan sedikit air agar tak mati. Betapa terkejutnya ia saat itu, ikan yang ia tangkap mengeluarkan suara layaknya manusia.“ Tolong aku, jangan kau makan aku, Pak! Kumohon biarkan aku hidup”, kata ikan tersebut meminta. Tanpa lama-lama petani tersebut mengembalikan ikan ke dalam air sungai.

Bertambah terkejutlah petani tersebut. Seketika ikan tersebut berubah menjadi sosok wanita cantik dan berujar, “Janganlah engkau takut Pak, aku takkan menyakitimu”. Petani yang gemetar menjawab dengan terbata-bata, “Si..si..siapakah kamu? Bu..bukankah kau ikan yang ku tangkap?” Dengan lembut wanita cantik menimpali, “Sebenarnya aku adalah seorang Putri yang dikutuk karena melanggar aturan kerajaan. Terima kasih aku ucapkan, melalui bantuanmu engkau membebaskanku dari kutukan.”

Petani tersebut masih tertegun tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bawalah aku pulang, sebagai imbalan atas kebaikanmu aku rela menjadi istrimu,” kata jelmaan Putri ikan tersebut. Dikucek-kucek kembali matanya karena masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan berkata, “Aku bukanlah seorang laki-laki kaya, apa kau tak akan menyesal nantinya?” Putri jelmaan ikan tersebut menjawab, “Taka apa, harta bukanlah segalanya. Aku akan ikut membantu pekerjaan rumahmu dengan syarat kau tak boleh menceritakan asal-usulku yang seorang jelmaan ikan”. Petani menyanggupi syarat yang diajukan.

Merekapun berjalan bersama, pulang ke rumah untuk hidup bersama.  Hidup sederhana berdampingan dengan bahagia. Pagi ia akan ke ladang mengurus sawah, sedang istrinya akan memasak dan membantu pekerjaan rumah. Selang beberapa waktu pasca menikah, Petani dan istrinya bertambah kebahagiaannya dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang sehat. Mereka memberi nama Samosir. Bayi mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan bertumbuh besar dari hari ke hari menjadi anak yang tampan dan kuat. Namun ada kebiasaan yang mengherankan, anak tersebut selalu merasa lapar dan tak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan akan ia lahap habis tanpa sisa.

                                                                 gambar: Hi-Fest
        

Hingga suatu hari, Istri petani memberi tugas pada putranya untuk mengantarkan makanan ke sawah tempat ayahnya bekerja. Dengan rantang berisi makan siang Sang ayah di tangan, ia bergegas menyusuri jalan sepetak. Tetapi ia berhenti di suatu gubug dan tak tahan dengan rasa laparnya. Ia membuka rantang dan memakannya. Tak sadar ia tertidur setelah menghabiskan semua isi rantang tersebut. Pak Tani menunggu kedatangan putranya sambil menahan haus dan lapar. Karena sudah terlalu lama menunggu ia putuskan pulang ke rumah.

Di perjalanan pulang, ia mendapati anaknya tertidur di gubug. “Hey, bangun!” teriak Pak Tani. Sang Putra bangun geragapan karena kaget. “Mana makanan buat, Ayah?” Tanya Pak Tani. “Sudah habis kumakan,” jawab putranya. Dengan nada tinggi Pak Tani marah dan berucap “Dasar anak ikan tak tahu diri! Makanan kau habiskan tanpa sisa, “ umpat Pak Tani tanpa sadar mengucap pantangan dari istrinya dulu.

Putranyapun lari pulang ke rumah menuju ibunya. Sang Ibu yang mengetahui bahwa identitas aslinya telah diungkap, dengan segera ia berkata, “Anakku, tak perlu kau bersedih hati, kau tetaplah putra Ibu yang kusayang. Sekarang lari dan pergilah ke atas bukit!” Dengan berlari dan terus berlari putranya menuju atas bukit sesuai titah ibunya. Air segera meluap dari pijakan sang anak hingga terus dan terus mengeluarkan air tiada henti. Penduduk lari kalang kabut menyelamatkan diri, pun termasuk Pak Tani yang menyesali ucapannya. Air segera memenuhi daratan dan menenggelamkannya hingga membentuk sebuah danau.  Dengan ratapan sedih sang istri kembali ke wujud ikannya. Konon danau tersebut dikenal dengan sebutan Danau Toba, dan bukit tempat putranya lari bernama pulau Samosir. 

Cerita Rakyat Aceh: Raja Burung Parakeet/ Raja Burung Parkit

                                                             sumber foto: Hi Fest


Tersiarlah kabar seekor raja burung Parakeet beserta rakyatnya hidup di hutan terdalam Aceh. Hidup berkelompok menjadikan mereka selalu bekerjasama, saling membantu, bahu membahu menciptakan sarang dan hunian yang aman, damai, dan nyaman. Kedamaian yang selalu terasa membahagiakan terusik dengan kehadiran seorang pemburu di suatu hari.

          Pemburu tersebut datang tidak seorang diri. Ia datang dengan teman-temannya bermaksud ingin memburu burung Parakeet. Berbekal siasat licik, mereka melumurkan perekat di sekitar sarang-sarang saat kelompok burung tersebut pergi mencari makan.

Selepas mencari makan, saat kembali ke sarang terdengar teriakan dari sarang yang berada di ujung bersahut-sahutan dengan sarang lainnya menimbulkan kegaduhan. “Tolong… tolong… sayapku menempel pada ranting. Tolooooong…” Seketika kepanikan menjalar yang membuat suasana semakin riuh oleh teriakan minta tolong. Raja burung Parakeet yang ikut terperangkap di dahan samping sarangnya berusaha menenangkan keadaan. “Saudaraku, tenanglah. Ini adalah perekat yang dipasang oleh pemburu. Jangan bergerak dan berpura-puralah mati saat pemburu datang. Saat pemburu melepaskan kita dari perekat ini, mereka akan memeriksa apakah kita masih hidup atau sudah mati. Tunggulah hingga hitungan keseratus, selepasnya kita terbang bersama-sama mencari tempat sarang baru.” Akhirnya rakyatnya merasa tenang dan menuruti perintah raja hingga esok hari.

Matahari bersinar, haripun berganti. Pemburu datang dengan senangnya karena merasa senang akan mendapatkan hasil buruan burung Parakeet yang banyak. Namun angan mereka berubah menjadi kekecewaan saat melepaskan burung dari sarangnya. Bukan burung Parakeet seperti perkiraan yang didapat, namun hanya tubuh mereka yang tak bergerak. Satu, dua, tiga, dan puluhan burung Parakeet mereka buang ke tanah dengan sia-sia karena dianggap mati. Namun rencana burung Parakeet tidak berjalan mulus, salah satu pemburu tiba-tiba jatuh dari atas pohon tempat sarang berada. Hal ini menjadikan burung Parakeet yang dibuang ke tanah kaget dan reflek terbang bersama-sama.

Menyadari hal ini pemburu lainnya pergi ke sarang utama tempat Raja burung Parakeet berada. Ia adalah satu-satunya burung Parakeet yang belum dibebaskan dari perekatnya. Ditangkaplah ia. Raja burung Parakeet merasa terdesak yang akhirnya meminta agar tidak dibunuh. Ia menawarkan diri akan menghibur para pemburu dengan kemampuan menyanyinya. Para pemburu mengabulkan permintaan burung Parakeet tersebut. Setiap hari burung tersebut bernyanyi dengan alunan merdu suaranya. Benar saja, hari demi hari kabar bahwa terdapat burung Parakeet bersuara merdu sampai di telinga sang Raja Aceh.

Alhasil para pemburu diundang Baginda Raja datang ke istana bermaksud menukar burung Parakeet dengan harta benda berlimpah. Seusai transaksi dijalankan, burung Parakeet dipindahkan ke dalam sangkar emas dengan segala makanan dan perawatan yang istimewa. Matahari berganti bulan, siang menarik karpet gelap malam untuk bergantian. Hari demi hari dilalui dengan menghibur Baginda Raja dengan merdu suaranya. Namun, burung Parakeet selalu teringat rakyat dan hutan tempat tinggalnya dulu. Kendati ia sekarang berada di sangkar emas, namun hidupnya nelangsa. Akhirnya ia memiliki suatu ide untuk dijalankan.

Satu hari, ia berpura-pura mati di dalam sangkar, Baginda Raja sangat sedih dan memerintahkan anak buahnya untuk membuat upacara besar penguburan burung kesayangannya. Ketika persiapan upacara telah selesai, burung tersebut di keluarkan dari sangkar dan diletakkan di atas kain putih. Kesempatan tak ia sia-siakan. Saat itu juga ia mengepakkan sayapnya untuk terbang bebas menuju hutan kediamannya dimana teman, saudara, dan rakyatnya telah menunggu. 

 

Laut Bercerita : Menilik Kembali Ingatan '98


Judul               : Laut Bercerita

Penulis            : Leila S. Chudori

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal               : 397 halaman

Terbit              : 2020


Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali….

 

            Dua baris puisi yang mewakili 397 halaman Laut Bercerita. Menariknya, singkat dan kepadatannya mampu menggambarkan kedalaman makna. Inilah keajaiban kata-kata sebuah puisi.

Novel Laut Bercerita milik Leila S. Chudori seperti sebuah pengabadian kepingan peristiwa di tahun 1998. Kita tahu adalah salah satu tahun tersulit yang dihadapi Indonesia pasca kemerdekaan. Isu politik, budaya, ekonomi, sosial, hukum, hingga pelanggaran HAM merubung pekat, puncaknya di bulan Mei. Kepekatan inilah yang berusaha diuraikan Leila hingga tak menguap sia-sia. Menyisakan titik-titik butiran cerita untuk menyegarkan ingatan.

Mengisahkan kegiatan aktivis membela kebebasan dari otoritas mutlak. Cerita dipenuhi dengan rintangan yang dihadapi kumpulan mahasiswa Yogyakarta yang awalnya bergerak bersama dari obrolan buku. Mencoba menggali dan memperluas pemikiran-pemikiran dari buku untuk melahirkan situasi yang lebih baik di Indonesia. Keresahan mulai dirasakan saat masif pembredelan buku dan pembatasan kegiatan perkumpulan di luar kampus. Kegelisahan dan empati mulai terpupuk saat melihat ketidakadilan pada kaum lemah seperti petani yang memperjuangkan lahannya dari kapitalis bernama pembangunan. Perjuangan demi perjuangan akhirnya menyatukan berbagai aktivis dari luar kota. Berkumpul bersama membentuk kekuatan suara mahasiswa yang tidak disukai oleh pemimpin pusat saat itu. Mencekam, tegang, dan memilukan akan mewarnai alur dari awal hingga akhir untuk memperjuangkan hak asasi manusia, hak hidup dari korban ‘98.

Anjani, kekasih tokoh utama Laut Biru yang digambarkan sebagai seniman lukis yang membersamai perjuangan Wirasena dan Winatra. Ia mengalami delusi, pun hal yang sama dirasakan ibu dan keluarga Laut Biru. Terjebak dalam ingatan yang sama. Mengulangi hari-hari bersama pada kenangan memasak, dan duduk berempat bersama Laut dan Asmara mengelilingi meja menyantap tengkleng lezat masakan andalan keluarga. Semua serasa terus berputar-putar pada hari Minggu dan tak ingin berakhir.

Ingatan yang berulang-ulang kali coba ditemukan tepiannya agar dapat keluar. Namun semakin mencari-cari, semakin ia tenggelam dan larut di dalamnya. Mereka berharap kenyataan tak merenggut harapan hidup Laut. Kabar yang kabur akan keberadaannya hingga mencapai isu pelanggaran HAM berat di mata dunia. Keberadaannya yang dihapuskan.

Layaknya wasiat, Laut pamit melalui cerpennya yang dimuat di surat kabar. Berharap ibu, bapak, dan adiknya tak perlu khawatir. Bahwa dimanapun ia berada ia akan selalu di sana, dimana orang terkasih masih mengingatnya dengan hangat. Ia akan berkabar dengan caranya, melalui bisikan angin, deru ombak, atau sinar matahari pagi yang menghangatkan dinginnya kebisuan suara demokrasi yang terasa dibungkam. Bukan oleh keadaan, tapi oleh mereka yang tidak peduli dengan hak hidup mereka yang hilang.

Laeila S Chudori, wartawan Tempo yang berkecimpung dengan jurnalistik membingkai peristiwa dalam tulisannya. Ia mengabarkan bahwa ketidakadilan akan hak hidup warga negara pernah terenggut. Laut Bercerita bukanlah novel pertama dengan latar peristiwa besar. Pulang adalah novel yang terbit sebelum Laut bercerita. Sebagai pembaca saya merasa belum menemukan Leila S Chudori seperti pada novel sebelumnya. Banyak hal terasa tanggung dan kurang terbuka dalam bercerita.

Leila terkesan tak lepas menggambarkan ada apa dengan apa adanya dalam bercerita. Hal-hal kecil terasa luput untuk menggenapi keutuhan cerita. Kepingan-kepingan yang akan membangun suasana seperti dampak dari peristiwa yang terjadi terhadap masyarakat kala itu. Apakah menyebarkan ketakutan di kehidupan bermasyarakat. Pengejawantahan reaksi masyarakat terhadap keadaan, posisi media dalam pewartaan, respon pemerintah untuk ambil posisi solutif, hingga berbagai isu intrik intel, dominasi politik dan kekuasaan, monopoli eksport import, bahkan konflik internal dalam pemerintah, hingga jalan cerita sang jendral mundur tak tersaji.

Tak banyak yang diulik hingga cerita serasa hambar. Tak perlu micin yang banyak untuk menyedapkan, hanya butuh komposisi bumbu yang pas untuk lebih menghidupkan konflik demi konflik cerita. Laut Bercerita lebih semacam cerpen panjang yang fokus pada satu hal namun cerita tak pernah bergerak menjangkau tepian, sudut-sudut lain di aliran cerita. Kompleksitas intrik cerita kurang kuat kemunculannya.

Terlepas dari cerita di dalamnya. Keterkaitan pemerintah, tokoh-tokoh politik dan keluarga korban pada masa Orde Baru, kita dapat menemukan luka dan trauma di sana. Kamisan adalah bukti bahwa keluarga korban terus berjuang mengenai kejelasan nasib anaknya hingga kini. Belum terwujud adanya rekonsiliasi dan jawaban akan pertanyaan implisit tentang keberadaan korban tak berujung.

Peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia terjadi di berbagai belahan dunia diutarakan di dalam novel Laut Bercerita seperti Plaza de Mayo Argentina 1978, Gwangju Korea 1980 dan lainnya. Legitimasi atas desaparidos beberapa mendapatkan tanggapan dan rangkulan dari pemimpinnya. Dan yang lain masih menunggu dan terus menunggu dengan pakaian hitam dan payung hitamnya. Mereka yang mati akan hidup berkali-kali dalam jiwa-jiwa baru bernama demokrasi yang diimpikan.

 

To Live - Yu Hua: HIDUP LAYAKNYA PERJUANGAN DALAM PERMAINAN TAKDIR


Judul               : To Live “Hidup”

Penulis            : YU Hua

Penerjemah     : Agustinus Wibowo

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Terbit              : 2015

Tebal               : 224 halaman

 

Saat pertama kali membaca nama tokoh utama Fugui, mengapa terdengar mirip fungi? Fugui dan fungi.

Fugui. Tokoh utama yang diberkahi nama dari orang tuanya dengan arti keberuntungan benar-benar beruntung dalam kisah hidupnya. Revolusi Tiongkok yang cepat dan mendadak menjadikan rakyat dan kalangan bawah bahkan tidak memahami perbedaan kondisi yang ada di negaranya. Fugui yang diceritakan anak tuan tanah mendadak kehilangan tanah warisan untuk membayar hutang hobinya bermain judi dan rumah bordil. Tapi siapa sangka kebangkrutan yang dialami menjadikan hidupnya mujur. Justru Long Er, si tuan tanah baru harus merelakan nyawanya saat Gerakan Reformasi Tanah Cina tengah dijalankan besar-besaran. 

Layaknya fungi (jamur) yang dapat hidup di manapun ia berada. Nasib mujurnya terus dikantongi ketika tetiba ia dijaring paksa menjadi tentara nasionalis saat ke kota mencari obat untuk ibunya. Ditengah kemelut perang saudara Tiongkok yang memakan banyak nyawa prajurit, ia bertahan hidup dan kembali ke desa dengan selamat. Begitupun seterusnya saat kelaparan melanda seluruh daratan Cina, ia tetap mampu bertahan.

Namun sayangnya keberuntungan hidup hanya ia miliki seorang diri tidak dengan orang-orang sekitarnya. Mulai dari orang tua, anak lelakinya Youquing, kemudian istri, disusul putri dan menantunya dijemput suratan kematian, tinggalah ia dengan cucu semata wayangnya. Di tengah usianya yang tak lagi muda setidaknya ia masih memiliki alasan hidup untuk terus merawat dan membesarkan cucunya Kugen. Tapi kematian memang bukanlah tamu yang ramah dengan mengetuk pintu saat bertamu. Pada akhirnya ia harus merelakan Kugen yang meninggal karena tersedak bubur kacang buatannya.

Novel setebal 224 halaman ini menyuguhkan cerita yang begitu jujur dan gamblang tentang kehidupan Tiongkok prarevolusi dan pasca revolusi yang begitu kontras melalui tokoh utamanya. Dari seorang tuan tanah yang terlihat jelas kesenjangan sosialnya saat prarevolusi dengan kehidupan dengan status sama rata sama rasa pasca revolusi. Paham-paham nasionalisme dan demokrasi mulai masuk di kawasan Asia.pada abad ke-19 merebak di daratan Cina dengan konsekuensi besar harus ditanggung rakyat.

Novel yang penuh esensi dan filosofi hidup yang dalam. Pemaknaan hidup dari hidup itu sendiri adalah pemberian yang mesti dijaga. “Hidupmu adalah pemberian dari orang tuamu, jika kamu tidak ingin hidup, kamu harus tanya mereka dahulu”. Betapa fundamental dari hidup adalah menhormati hidup itu sendiri. Fugui memiliki banyak alasan untuk tidak bertahan dengan menyaksikan kepergian satu persatu anggota keluarganya, namun ia memilih untuk tetap hidup.

Tidak hanya getir, harapan, dan kebahagiaan di tengah-tengahnya.  Penggambaran esensi etnis Cina di setiap keturunannya yang terlihat jelas pada kutipan “Kelak saat ayam besar berubah menjadi angsa, angsa besar berubah menjadi kambing, kambing besar berubah menjadi sapi”. Betap hidup dipandang optimis untuk terus mengubah keadaan yang selalu kita lihat ada di setiap orang Cina dimanapun berada. 

Eksistensi tokoh utama berbalut setting perkembangan Revolusi Cina yang berimbas pada pergolakan sosial dan politik mengakibatkan krisis kelaparan di seluruh daratan Cina termuat jelas di dalamnya. Isu-isu politik yang sensitif  menjadikan novel ini sempat dilarang beredar. Karya hebat tetap memiliki tantangannya sendiri saat melawan arus untuk diperdengarkan dunia luar.

Novel epik yang akan mengajakmu untuk merenung tentang apa yang sudah dan belum kamu keluhkan tentang hidup. Menghantarkanmu berdialog pada diri sendiri tentang hidup yang telah dijalani. Terasa dingin dan getir pada setiap barisan ceritanya, namun hangat saat menjumpai pandangan hidup tokoh utamanya. Bahwa hidup tetaplah hidup yang dijalani sebagaimana tangan-tangan takdir membawanya. Fugui dan fungui yang mampu bertahan dalam keadaan apapun saat menjalani garis takdirnya.