Cerita Rakyat Aceh: Raja Burung Parakeet/ Raja Burung Parkit

02.02 Arini S Irawati 0 Comments

                                                             sumber foto: Hi Fest


Tersiarlah kabar seekor raja burung Parakeet beserta rakyatnya hidup di hutan terdalam Aceh. Hidup berkelompok menjadikan mereka selalu bekerjasama, saling membantu, bahu membahu menciptakan sarang dan hunian yang aman, damai, dan nyaman. Kedamaian yang selalu terasa membahagiakan terusik dengan kehadiran seorang pemburu di suatu hari.

          Pemburu tersebut datang tidak seorang diri. Ia datang dengan teman-temannya bermaksud ingin memburu burung Parakeet. Berbekal siasat licik, mereka melumurkan perekat di sekitar sarang-sarang saat kelompok burung tersebut pergi mencari makan.

Selepas mencari makan, saat kembali ke sarang terdengar teriakan dari sarang yang berada di ujung bersahut-sahutan dengan sarang lainnya menimbulkan kegaduhan. “Tolong… tolong… sayapku menempel pada ranting. Tolooooong…” Seketika kepanikan menjalar yang membuat suasana semakin riuh oleh teriakan minta tolong. Raja burung Parakeet yang ikut terperangkap di dahan samping sarangnya berusaha menenangkan keadaan. “Saudaraku, tenanglah. Ini adalah perekat yang dipasang oleh pemburu. Jangan bergerak dan berpura-puralah mati saat pemburu datang. Saat pemburu melepaskan kita dari perekat ini, mereka akan memeriksa apakah kita masih hidup atau sudah mati. Tunggulah hingga hitungan keseratus, selepasnya kita terbang bersama-sama mencari tempat sarang baru.” Akhirnya rakyatnya merasa tenang dan menuruti perintah raja hingga esok hari.

Matahari bersinar, haripun berganti. Pemburu datang dengan senangnya karena merasa senang akan mendapatkan hasil buruan burung Parakeet yang banyak. Namun angan mereka berubah menjadi kekecewaan saat melepaskan burung dari sarangnya. Bukan burung Parakeet seperti perkiraan yang didapat, namun hanya tubuh mereka yang tak bergerak. Satu, dua, tiga, dan puluhan burung Parakeet mereka buang ke tanah dengan sia-sia karena dianggap mati. Namun rencana burung Parakeet tidak berjalan mulus, salah satu pemburu tiba-tiba jatuh dari atas pohon tempat sarang berada. Hal ini menjadikan burung Parakeet yang dibuang ke tanah kaget dan reflek terbang bersama-sama.

Menyadari hal ini pemburu lainnya pergi ke sarang utama tempat Raja burung Parakeet berada. Ia adalah satu-satunya burung Parakeet yang belum dibebaskan dari perekatnya. Ditangkaplah ia. Raja burung Parakeet merasa terdesak yang akhirnya meminta agar tidak dibunuh. Ia menawarkan diri akan menghibur para pemburu dengan kemampuan menyanyinya. Para pemburu mengabulkan permintaan burung Parakeet tersebut. Setiap hari burung tersebut bernyanyi dengan alunan merdu suaranya. Benar saja, hari demi hari kabar bahwa terdapat burung Parakeet bersuara merdu sampai di telinga sang Raja Aceh.

Alhasil para pemburu diundang Baginda Raja datang ke istana bermaksud menukar burung Parakeet dengan harta benda berlimpah. Seusai transaksi dijalankan, burung Parakeet dipindahkan ke dalam sangkar emas dengan segala makanan dan perawatan yang istimewa. Matahari berganti bulan, siang menarik karpet gelap malam untuk bergantian. Hari demi hari dilalui dengan menghibur Baginda Raja dengan merdu suaranya. Namun, burung Parakeet selalu teringat rakyat dan hutan tempat tinggalnya dulu. Kendati ia sekarang berada di sangkar emas, namun hidupnya nelangsa. Akhirnya ia memiliki suatu ide untuk dijalankan.

Satu hari, ia berpura-pura mati di dalam sangkar, Baginda Raja sangat sedih dan memerintahkan anak buahnya untuk membuat upacara besar penguburan burung kesayangannya. Ketika persiapan upacara telah selesai, burung tersebut di keluarkan dari sangkar dan diletakkan di atas kain putih. Kesempatan tak ia sia-siakan. Saat itu juga ia mengepakkan sayapnya untuk terbang bebas menuju hutan kediamannya dimana teman, saudara, dan rakyatnya telah menunggu. 

 

You Might Also Like

0 komentar: