Cerita Rakyat Aceh: Raja Burung Parakeet/ Raja Burung Parkit
sumber foto: Hi Fest
Tersiarlah kabar seekor
raja burung Parakeet beserta rakyatnya hidup di hutan terdalam Aceh. Hidup
berkelompok menjadikan mereka selalu bekerjasama, saling membantu, bahu membahu
menciptakan sarang dan hunian yang aman, damai, dan nyaman. Kedamaian yang
selalu terasa membahagiakan terusik dengan kehadiran seorang pemburu di suatu
hari.
Pemburu tersebut datang tidak seorang diri. Ia datang dengan
teman-temannya bermaksud ingin memburu burung Parakeet. Berbekal siasat licik,
mereka melumurkan perekat di sekitar sarang-sarang saat kelompok burung tersebut
pergi mencari makan.
Selepas mencari makan,
saat kembali ke sarang terdengar teriakan dari sarang yang berada di ujung bersahut-sahutan
dengan sarang lainnya menimbulkan kegaduhan. “Tolong… tolong… sayapku menempel
pada ranting. Tolooooong…” Seketika kepanikan menjalar yang membuat suasana
semakin riuh oleh teriakan minta tolong. Raja burung Parakeet yang ikut
terperangkap di dahan samping sarangnya berusaha menenangkan keadaan. “Saudaraku,
tenanglah. Ini adalah perekat yang dipasang oleh pemburu. Jangan bergerak dan
berpura-puralah mati saat pemburu datang. Saat pemburu melepaskan kita dari
perekat ini, mereka akan memeriksa apakah kita masih hidup atau sudah mati.
Tunggulah hingga hitungan keseratus, selepasnya kita terbang bersama-sama
mencari tempat sarang baru.” Akhirnya rakyatnya merasa tenang dan menuruti
perintah raja hingga esok hari.
Matahari bersinar, haripun
berganti. Pemburu datang dengan senangnya karena merasa senang akan mendapatkan
hasil buruan burung Parakeet yang banyak. Namun angan mereka berubah menjadi
kekecewaan saat melepaskan burung dari sarangnya. Bukan burung Parakeet seperti
perkiraan yang didapat, namun hanya tubuh mereka yang tak bergerak. Satu, dua,
tiga, dan puluhan burung Parakeet mereka buang ke tanah dengan sia-sia karena
dianggap mati. Namun rencana burung Parakeet tidak berjalan mulus, salah satu
pemburu tiba-tiba jatuh dari atas pohon tempat sarang berada. Hal ini
menjadikan burung Parakeet yang dibuang ke tanah kaget dan reflek terbang
bersama-sama.
Menyadari hal ini pemburu
lainnya pergi ke sarang utama tempat Raja burung Parakeet berada. Ia adalah
satu-satunya burung Parakeet yang belum dibebaskan dari perekatnya.
Ditangkaplah ia. Raja burung Parakeet merasa terdesak yang akhirnya meminta
agar tidak dibunuh. Ia menawarkan diri akan menghibur para pemburu dengan
kemampuan menyanyinya. Para pemburu mengabulkan permintaan burung Parakeet
tersebut. Setiap hari burung tersebut bernyanyi dengan alunan merdu suaranya. Benar
saja, hari demi hari kabar bahwa terdapat burung Parakeet bersuara merdu sampai
di telinga sang Raja Aceh.
Alhasil para pemburu
diundang Baginda Raja datang ke istana bermaksud menukar burung Parakeet dengan
harta benda berlimpah. Seusai transaksi dijalankan, burung Parakeet dipindahkan
ke dalam sangkar emas dengan segala makanan dan perawatan yang istimewa. Matahari
berganti bulan, siang menarik karpet gelap malam untuk bergantian. Hari demi
hari dilalui dengan menghibur Baginda Raja dengan merdu suaranya. Namun, burung
Parakeet selalu teringat rakyat dan hutan tempat tinggalnya dulu. Kendati ia
sekarang berada di sangkar emas, namun hidupnya nelangsa. Akhirnya ia memiliki
suatu ide untuk dijalankan.
Satu hari, ia berpura-pura
mati di dalam sangkar, Baginda Raja sangat sedih dan memerintahkan anak buahnya
untuk membuat upacara besar penguburan burung kesayangannya. Ketika persiapan
upacara telah selesai, burung tersebut di keluarkan dari sangkar dan diletakkan
di atas kain putih. Kesempatan tak ia sia-siakan. Saat itu juga ia mengepakkan
sayapnya untuk terbang bebas menuju hutan kediamannya dimana teman, saudara,
dan rakyatnya telah menunggu.


0 komentar: