Laut Bercerita : Menilik Kembali Ingatan '98
Judul : Laut
Bercerita
Penulis : Leila S.
Chudori
Penerbit :
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal : 397
halaman
Terbit : 2020
Matilah engkau mati
Kau akan lahir
berkali-kali….
Dua baris puisi
yang mewakili 397 halaman Laut Bercerita. Menariknya, singkat dan kepadatannya mampu
menggambarkan kedalaman makna. Inilah keajaiban kata-kata sebuah puisi.
Novel Laut Bercerita milik Leila S. Chudori
seperti sebuah pengabadian kepingan peristiwa di tahun 1998. Kita tahu adalah
salah satu tahun tersulit yang dihadapi Indonesia pasca kemerdekaan. Isu politik,
budaya, ekonomi, sosial, hukum, hingga pelanggaran HAM merubung pekat,
puncaknya di bulan Mei. Kepekatan inilah yang berusaha diuraikan Leila hingga
tak menguap sia-sia. Menyisakan titik-titik butiran cerita untuk menyegarkan
ingatan.
Mengisahkan kegiatan aktivis membela kebebasan dari
otoritas mutlak. Cerita dipenuhi dengan rintangan yang dihadapi kumpulan
mahasiswa Yogyakarta yang awalnya bergerak bersama dari obrolan buku. Mencoba
menggali dan memperluas pemikiran-pemikiran dari buku untuk melahirkan situasi
yang lebih baik di Indonesia. Keresahan mulai dirasakan saat masif pembredelan
buku dan pembatasan kegiatan perkumpulan di luar kampus. Kegelisahan dan empati
mulai terpupuk saat melihat ketidakadilan pada kaum lemah seperti petani yang memperjuangkan
lahannya dari kapitalis bernama pembangunan. Perjuangan demi perjuangan
akhirnya menyatukan berbagai aktivis dari luar kota. Berkumpul bersama
membentuk kekuatan suara mahasiswa yang tidak disukai oleh pemimpin pusat saat
itu. Mencekam, tegang, dan memilukan akan mewarnai alur dari awal hingga akhir
untuk memperjuangkan hak asasi manusia, hak hidup dari korban ‘98.
Anjani, kekasih tokoh utama Laut Biru yang
digambarkan sebagai seniman lukis yang membersamai perjuangan Wirasena dan Winatra.
Ia mengalami delusi, pun hal yang sama dirasakan ibu dan keluarga Laut Biru.
Terjebak dalam ingatan yang sama. Mengulangi hari-hari bersama pada kenangan
memasak, dan duduk berempat bersama Laut dan Asmara mengelilingi meja menyantap
tengkleng lezat masakan andalan keluarga. Semua serasa terus berputar-putar
pada hari Minggu dan tak ingin berakhir.
Ingatan yang berulang-ulang kali coba ditemukan
tepiannya agar dapat keluar. Namun semakin mencari-cari, semakin ia tenggelam
dan larut di dalamnya. Mereka berharap kenyataan tak merenggut harapan hidup Laut.
Kabar yang kabur akan keberadaannya hingga mencapai isu pelanggaran HAM berat
di mata dunia. Keberadaannya yang dihapuskan.
Layaknya wasiat, Laut pamit melalui cerpennya yang
dimuat di surat kabar. Berharap ibu, bapak, dan adiknya tak perlu khawatir. Bahwa
dimanapun ia berada ia akan selalu di sana, dimana orang terkasih masih
mengingatnya dengan hangat. Ia akan berkabar dengan caranya, melalui bisikan
angin, deru ombak, atau sinar matahari pagi yang menghangatkan dinginnya
kebisuan suara demokrasi yang terasa dibungkam. Bukan oleh keadaan, tapi oleh
mereka yang tidak peduli dengan hak hidup mereka yang hilang.
Laeila S Chudori, wartawan Tempo yang
berkecimpung dengan jurnalistik membingkai peristiwa dalam tulisannya. Ia
mengabarkan bahwa ketidakadilan akan hak hidup warga negara pernah terenggut. Laut
Bercerita bukanlah novel pertama dengan latar peristiwa besar. Pulang adalah
novel yang terbit sebelum Laut bercerita. Sebagai pembaca saya merasa belum
menemukan Leila S Chudori seperti pada novel sebelumnya. Banyak hal terasa
tanggung dan kurang terbuka dalam bercerita.
Leila terkesan tak lepas menggambarkan ada apa
dengan apa adanya dalam bercerita. Hal-hal kecil terasa luput untuk menggenapi
keutuhan cerita. Kepingan-kepingan yang akan membangun suasana seperti dampak
dari peristiwa yang terjadi terhadap masyarakat kala itu. Apakah menyebarkan
ketakutan di kehidupan bermasyarakat. Pengejawantahan reaksi masyarakat
terhadap keadaan, posisi media dalam pewartaan, respon pemerintah untuk ambil
posisi solutif, hingga berbagai isu intrik intel, dominasi politik dan
kekuasaan, monopoli eksport import, bahkan konflik internal dalam pemerintah,
hingga jalan cerita sang jendral mundur tak tersaji.
Tak banyak yang diulik hingga cerita serasa hambar.
Tak perlu micin yang banyak untuk menyedapkan, hanya butuh komposisi bumbu yang
pas untuk lebih menghidupkan konflik demi konflik cerita. Laut Bercerita lebih
semacam cerpen panjang yang fokus pada satu hal namun cerita tak pernah
bergerak menjangkau tepian, sudut-sudut lain di aliran cerita. Kompleksitas
intrik cerita kurang kuat kemunculannya.
Terlepas dari cerita di dalamnya. Keterkaitan
pemerintah, tokoh-tokoh politik dan keluarga korban pada masa Orde Baru, kita dapat
menemukan luka dan trauma di sana. Kamisan adalah bukti bahwa keluarga korban terus
berjuang mengenai kejelasan nasib anaknya hingga kini. Belum terwujud adanya
rekonsiliasi dan jawaban akan pertanyaan implisit tentang keberadaan korban tak
berujung.
Peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia terjadi
di berbagai belahan dunia diutarakan di dalam novel Laut Bercerita seperti Plaza
de Mayo Argentina 1978, Gwangju Korea 1980 dan lainnya. Legitimasi atas
desaparidos beberapa mendapatkan
tanggapan dan rangkulan dari pemimpinnya. Dan yang lain masih menunggu dan
terus menunggu dengan pakaian hitam dan payung hitamnya. Mereka yang mati akan
hidup berkali-kali dalam jiwa-jiwa baru bernama demokrasi yang diimpikan.


0 komentar: