Laut Bercerita : Menilik Kembali Ingatan '98

21.04 Arini S Irawati 0 Comments


Judul               : Laut Bercerita

Penulis            : Leila S. Chudori

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal               : 397 halaman

Terbit              : 2020


Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali….

 

            Dua baris puisi yang mewakili 397 halaman Laut Bercerita. Menariknya, singkat dan kepadatannya mampu menggambarkan kedalaman makna. Inilah keajaiban kata-kata sebuah puisi.

Novel Laut Bercerita milik Leila S. Chudori seperti sebuah pengabadian kepingan peristiwa di tahun 1998. Kita tahu adalah salah satu tahun tersulit yang dihadapi Indonesia pasca kemerdekaan. Isu politik, budaya, ekonomi, sosial, hukum, hingga pelanggaran HAM merubung pekat, puncaknya di bulan Mei. Kepekatan inilah yang berusaha diuraikan Leila hingga tak menguap sia-sia. Menyisakan titik-titik butiran cerita untuk menyegarkan ingatan.

Mengisahkan kegiatan aktivis membela kebebasan dari otoritas mutlak. Cerita dipenuhi dengan rintangan yang dihadapi kumpulan mahasiswa Yogyakarta yang awalnya bergerak bersama dari obrolan buku. Mencoba menggali dan memperluas pemikiran-pemikiran dari buku untuk melahirkan situasi yang lebih baik di Indonesia. Keresahan mulai dirasakan saat masif pembredelan buku dan pembatasan kegiatan perkumpulan di luar kampus. Kegelisahan dan empati mulai terpupuk saat melihat ketidakadilan pada kaum lemah seperti petani yang memperjuangkan lahannya dari kapitalis bernama pembangunan. Perjuangan demi perjuangan akhirnya menyatukan berbagai aktivis dari luar kota. Berkumpul bersama membentuk kekuatan suara mahasiswa yang tidak disukai oleh pemimpin pusat saat itu. Mencekam, tegang, dan memilukan akan mewarnai alur dari awal hingga akhir untuk memperjuangkan hak asasi manusia, hak hidup dari korban ‘98.

Anjani, kekasih tokoh utama Laut Biru yang digambarkan sebagai seniman lukis yang membersamai perjuangan Wirasena dan Winatra. Ia mengalami delusi, pun hal yang sama dirasakan ibu dan keluarga Laut Biru. Terjebak dalam ingatan yang sama. Mengulangi hari-hari bersama pada kenangan memasak, dan duduk berempat bersama Laut dan Asmara mengelilingi meja menyantap tengkleng lezat masakan andalan keluarga. Semua serasa terus berputar-putar pada hari Minggu dan tak ingin berakhir.

Ingatan yang berulang-ulang kali coba ditemukan tepiannya agar dapat keluar. Namun semakin mencari-cari, semakin ia tenggelam dan larut di dalamnya. Mereka berharap kenyataan tak merenggut harapan hidup Laut. Kabar yang kabur akan keberadaannya hingga mencapai isu pelanggaran HAM berat di mata dunia. Keberadaannya yang dihapuskan.

Layaknya wasiat, Laut pamit melalui cerpennya yang dimuat di surat kabar. Berharap ibu, bapak, dan adiknya tak perlu khawatir. Bahwa dimanapun ia berada ia akan selalu di sana, dimana orang terkasih masih mengingatnya dengan hangat. Ia akan berkabar dengan caranya, melalui bisikan angin, deru ombak, atau sinar matahari pagi yang menghangatkan dinginnya kebisuan suara demokrasi yang terasa dibungkam. Bukan oleh keadaan, tapi oleh mereka yang tidak peduli dengan hak hidup mereka yang hilang.

Laeila S Chudori, wartawan Tempo yang berkecimpung dengan jurnalistik membingkai peristiwa dalam tulisannya. Ia mengabarkan bahwa ketidakadilan akan hak hidup warga negara pernah terenggut. Laut Bercerita bukanlah novel pertama dengan latar peristiwa besar. Pulang adalah novel yang terbit sebelum Laut bercerita. Sebagai pembaca saya merasa belum menemukan Leila S Chudori seperti pada novel sebelumnya. Banyak hal terasa tanggung dan kurang terbuka dalam bercerita.

Leila terkesan tak lepas menggambarkan ada apa dengan apa adanya dalam bercerita. Hal-hal kecil terasa luput untuk menggenapi keutuhan cerita. Kepingan-kepingan yang akan membangun suasana seperti dampak dari peristiwa yang terjadi terhadap masyarakat kala itu. Apakah menyebarkan ketakutan di kehidupan bermasyarakat. Pengejawantahan reaksi masyarakat terhadap keadaan, posisi media dalam pewartaan, respon pemerintah untuk ambil posisi solutif, hingga berbagai isu intrik intel, dominasi politik dan kekuasaan, monopoli eksport import, bahkan konflik internal dalam pemerintah, hingga jalan cerita sang jendral mundur tak tersaji.

Tak banyak yang diulik hingga cerita serasa hambar. Tak perlu micin yang banyak untuk menyedapkan, hanya butuh komposisi bumbu yang pas untuk lebih menghidupkan konflik demi konflik cerita. Laut Bercerita lebih semacam cerpen panjang yang fokus pada satu hal namun cerita tak pernah bergerak menjangkau tepian, sudut-sudut lain di aliran cerita. Kompleksitas intrik cerita kurang kuat kemunculannya.

Terlepas dari cerita di dalamnya. Keterkaitan pemerintah, tokoh-tokoh politik dan keluarga korban pada masa Orde Baru, kita dapat menemukan luka dan trauma di sana. Kamisan adalah bukti bahwa keluarga korban terus berjuang mengenai kejelasan nasib anaknya hingga kini. Belum terwujud adanya rekonsiliasi dan jawaban akan pertanyaan implisit tentang keberadaan korban tak berujung.

Peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia terjadi di berbagai belahan dunia diutarakan di dalam novel Laut Bercerita seperti Plaza de Mayo Argentina 1978, Gwangju Korea 1980 dan lainnya. Legitimasi atas desaparidos beberapa mendapatkan tanggapan dan rangkulan dari pemimpinnya. Dan yang lain masih menunggu dan terus menunggu dengan pakaian hitam dan payung hitamnya. Mereka yang mati akan hidup berkali-kali dalam jiwa-jiwa baru bernama demokrasi yang diimpikan.

 

You Might Also Like

0 komentar: