Kilah Kidung Sang Jenderal

22.45 Arini S Irawati 0 Comments


“Asem” muntapku.
Gerimis menggiringku untuk merebah di bale[1] besi. Bale usang yang selalu menjeritkan karat-karat penanda uzurnya. Menelentang. Pikiranku mengawang[2] ke belakang. Masih kudapati penggalan-penggalan kisahku. Tentang tawa gadis kecil yang berderai pada langkah-langkahnya saat berlari. Tentang tangis yang tak pernah menangisi kecilnya hidup. Suara rinai hujan di luar membentur kerikil-kerikil, mebentuk alunan nada pengiring katup mata untuk segera memanjangkan awangan-ku ke mimpi.
#
Pendar matahari mengintip dari lubang gedek[3] kamar. Tepat pada mata kiriku. Rupanya pagi sudah lama beranjak. Aku bangkit menuju kaca di sudut kamar. Satu-satunya pengisi kamar ciut[4] selain bale yang tergeletak di samping kaca, sama uzurnya dengan bale. Memang.
Kupandangi riasan semalam belum terhapus. Kulewati Bapak untuk segera mendapati air pancuran kendil[5] di belakang rumah. Ada perasaan tak enak tertangkap dari ekor mata Bapak untukku. Tapi segar segera melepaskan keganjilan perasaanku.
“Lagi apa Pak?” tanyaku.
Jago wis ngluruk suwe, Ti”[6] jawab Bapak.
Aku menuju meja tempat kopi, gula, dan termos. Kalau Bapak sudah mulai dengan kata sindiran, dengan segera kusuguhkan seomplong kopi hitam untuk beliau. Kularikan kaki keluar dapur menuju kamar. Menata kamar dan menata hati, menebalkan telinga untuk mendengarkan gerutuan segera.
Kudapati Bapak tengah mengisap pipa, duduk di lincak[7] bawah pohon Waru. Waru yang daun hijaunya terlihat sumringah[8] dibelai oleh matahari. Kudekati Bapak. Ada bau asing meyentuh hidung. Kudapati warna hitam pekat pada tembakau yang beliau hisap.
“Bapak mau berangkat ke kota tetangga lagi?” tanyaku.
Sarapane wis mateng durung?”[9] ujar Bapak mengalihkan pembicaraan.
“Pak, apa ke Solo ndak terlalu bahaya?” masih memburu pembicaraan awal.
Sudah berapa kali Bapak ingatkan, mandhek dadi ledhek. Apa gunane? Nyoreng rai,[10] balik menyalahkan.
Aku hanya diam, menunduk. Tak ada guna aku berkukuh membela diri. Bukannya tak pernah. Pernah, tapi sama saja. Aku tetap menjadi yang tersalah. Bapak memang terlalu keras untuk megubah jalan pemikirannya. Bagiku berdebat hanya akan menggali luka lebih dalam di hati Bapak. Aku tahu, kekecewaan Bapak selalu terdengar disetiap kami membahas tentang tayub. Nama Siti Aisyah yang telah kusandang pemberian Bapak tak pernah sampai pada maknanya. Dan karena pekerjaanku pula tetangga merendahkan keluarga kami, tapi aku percaya Gusti Pangeran lebih mengerti. Toh, kami tak makan nasi dari mereka.
Monggo Pak, niki dhaharane, gethuk lan kopi ireng[11], sambil duduk.
 “Rungoke wong tuwo yen ngomong, Nduk. Iki kanggo apike awakmu dhewe[12]. Bukan adat perempuan Jawa menari untuk kesenangan lelaki”, tambah Bapak.
Kurelakan kepalaku untuk mengangguk saja. Tak mungkin kulepaskan pekerjaan. Mau makan darimana kalau bukan tayub. Menari adalah satu-satunya kesenanganku sedari kecil. Menari adalah satu-satunya kebisaanku. Menari adalah satu-satunya benang pemanjang hidupku untuk terasa hidup saat ini. Tapi Bapak tidak paham akan itu. Toh, aku hanya menari jika ada hajatan besar.
Kupandangi Bapak. Kini, Bapak lebih sibuk dengan urusannya ke Solo, entah apa yang dikerjakan. Tidak hanya sehari-dua hari, kadang hingga seminggu baru pulang. Kabar yang kudengar, banyak pemberontakan terjadi di Solo kota. Pemuda-pemuda banyak berkumpul saat malam-malam agar tidak terciduk petugas garongan. Bukan hanya itu, kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya banyak yang dibawa paksa dan sebagian tak kembali setelahnya. Kabar macam inipun kudengar saat di tayub. Saat hajatan besar macam inilah justru banyak orang banyak bicara selain untuk berpesta.
#
Keesokannya, Bapak tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Solo. Mungkin kabar-kabar di dekade awal kemerdekaan yang kudengar kemarin, membuat Bapak terpanggil untuk merapatkan barisan. Kurasakan jiwa kesatrianya sebagai pemuda pejuang kemerdekaan masih lekat, di setiap langkahnya, di setiap perkataannya, dan di setiap tatapannya pada seragam lusuh yang dulu dikenakan. Politik yang mulai semrawut[13] sering dikeluhkan Bapak. Sedang aku, masih saja berkutat memikirkan kemiskinan yang menjerat.
Aku kadang khawatir. Bukan apa-apa, teringat Bapak yang sudah sepuh[14]. Walau umur Bapak tak dapat dikatakan muda dengan gelambir-gelambir pada pipi yang terayun jika bergerak cepat, sinar mata yang mulai pudar dan sayu, dan urat-urat pada kulit yang telah menonjol, namun tenaga tak serenta tubuhnya.
Matahari sudah mulai meninggi, Bapak pamit membawa buntelan[15] seragam, bothok sego[16], tak lupa pipa kesayangan beserta uba rampenya[17], termasuk campuran hitam pekat yang baru kuketahui candu namanya. Kutanyakan pada orang-orang pasar saat membeli sayur tadi pagi.
Wajah Bapak terlihat bingar[18] sekali. Mulutnya komat-kamit seperti merapal mantera yang menjadi kebiasaan orang-orang tua di Jawa. Kukecup punggung tangannya. Entah, dadaku bergetar seperti pertama kali aku jatuh dari naik sepeda semasa kecil, dan Bapak yang membopongku dan tetap menguatkan keberanianku belajar sepeda. Sungguh. Bapak membalas dengan pelukan hangat. Mataku meleleh. Bagaimanapun kerasnya Bapak, beliaulah kini satu-satunya orang tua yang kumiliki.
Matahari mulai turun dari atas kepala, tak lagi menjadikan banjir keringat. Angin silir-silir[19] menhampiriku yang tengah duduk di lincak pelataran rumah setelah menghantar Bapak hingga perbatasan desa. Kuedarkan pandangan. Mataku menangkap kupu-kupu hinggap di atas ranting cangkokan kembang kenanga yang telah kering kerontang tak kuat menahan pukulan kemarau musim lalu. Sayapnya biru menyala. Seperti nyala api biru dari sumbu minyak spirtus di petromak milik pak Kades. Birunya terlihat kontras dengan sekelilingnya. 
Kupandangi lamat-lamat. Terlihat sayap kirinya tak melengkung sempurna, seperti tersobek paksa. Kini mataku mengelilingi sekitaran. Dan benar, kudapati potongan sayap biru meyala tengah diapit paruh ayam jago. Ukuran jago yang kulihat tak biasa, lebih besar daripada umumnya. Jago kembali mengoyak buruannya, jauh hingga kupu-kupu terbang semampunya. Ah, kupu-kupu yang malang, tak lama hidupmu, sekarang papak[20] diburu jago.
Suara kepik mulai menggiring permadani gelap untuk segera memenuhi langit. Mulai terlihat uplik-uplik[21] menyala pada setiap rumah. Terlihat dari sini, deretan uplik yang tertancap pada tiang-tiang rumah seakan membentuk jaring laba-laba. Terlihat paling terang rumah pak kades sebagai pusatnya, mirip seperti semut yang terpilin benang halus laba-laba. Ya, aku dapat melihat “sarang laba-laba” ini karena rumahku tepat di ujung desa, hanya sejengkal dari hutan pinggir desa.
Katup mataku enggan menutup, terjagalah aku malam ini. Kupalingkan wajah ke kanan masih terjaga. Ku alihkan ke kiri sama pula tak ada bedanya. Mungkin karena desa tetangga tengah ada pesta panen, maka tidurku terganggu. Sengaja aku tak mengambil pekerjaan. Karena rumah tetap harus ada penghuninya. Orang Jawa bilang, seberapa lamapun kita pergi, tidur tetaplah harus di rumah sendiri. Karena bagi kami rumah bukan sekadar rumah. Maka saat Bapak tak di rumah, kewajibankulah untuk di rumah. Menempati, menemani, dan menjaganya.
Dari kejauhan mulai kudengar kidung Jawa mulai ditabuh, penanda malam telah mencapai puncaknya. Tabuhan gendang pengiring tayub lambat laun terasa berat, dan berat. Dan..
#
Derap kaki berat yang teratur membangunkan tidur ayamku. Dadaku terasa sesak, seakan udara tiba-tiba terhisap pusaran langkah kaki. Aku bangun. Melihat ke kanan-kiri, bingung mencari pemilik langkah kaki. Terdengar orang-orang berteriak menggedor-gedor rumah. Dengan lantang pemilik langkah-langkah kaki mendobrak pintu dan memasuki rumah. Entah darimana datangnya, tiba-tiba bahuku terasa berat. Sekuat tenaga kuhempaskan cengkraman tangan-tangan yang menyergapku kasar. Apa daya, tubuh tak mampu melawan tenaga para lelaki berseragam ini.
Digelandangnya aku menuju pelataran rumah. Diluar nyanaku. Seperti akan adanya arak-arak petinggi baru, semua orang berkumpul. Namun bedanya kini diseret bergantian dengan penuh teriakan dan tangisan. Tak bisa kusembunyikan degup jantungku yang tak beraturan. Nafasku mulai berat bersama kengerian pikiran yang mulai menduga-duga. Di depanku, gadis-gadis desa dibopong paksa. Anak-anak lari mengikuti biyungnya. Para orang tua renta tersengal-sengal napasnya dan jatuh berulang kali. Lelaki berseragam tetap acuh tak mengindahkan. Dengan kasar, ia tarik tanganku untuk terus digelandang paksa, entah kemana. Semua terlihat gelap.
Kami berjalan jauh, melewati semak liar yang membaret perih di sekujur kaki. Mengelupaskan kulit-kulit tipis dengan duri kecil semaknya. Anyir darah dan tanah basah mulai tercium bergantian. Terseok-seok kami melangkah. Tubuhku mulai lemas, entah berapa jauh lagi aku harus menapaki malam. Kulihat setitik cahaya, semakin dekat… dekat… dan silau. Rupanya silau dari kendaraan perang mereka.
Dikumpulkannya kami disebuah tanah kosong penuh rumput liar. Dan baru kusadari kami berada di tengah hutan. Terduduk kami, atau lebih tepatnya menggelesot di tanah. Terlihat tubuh pria yang lebih tegap keluar dari balik kendaraan besar layaknya truk. Ia mengenakan topi dan kacamata hitam, menutupi sorot matanya, yang kuyakini tajamnya menghujani tubuh kami saat ini.
Ia mulai bicara dan bicara. Kemudian mulai meneriaki gendang telinga kami. Saat tak mendapat jawaban, suaranya meninggi dan melengking. Suaranya terus saja terasa nyaring dan keras, hingga tak dapat lagi kupahami perkataannya. Yang dapat kutangkap hanyalah suara dentuman bedil yang kian beruntut layaknya gending - gending Jawa yang terpukul teratur.
Tuhan, apa salahku? Bukan, apa salah kami? Apakah karena tayub? Karena pajak yang menengkak leher kami belum dibayarkan? Karena penertiban judi yang tengah marak? Karena candu yang baru di hisapi kaum lelaki di desa kami? Atau, Bapak?
Dan kulihat kembali kupu-kupu tadi sore melintas di hadapan teriakan lelaki bertopi penyok sebelah itu, Terdengar seperti kidung malam sebagai pengiring gending Jawa yang tengah dimainkan.



[1] Kerangka tempat tidur berbahan besi
[2] menerawang
[3] Bilik; dinding yang terbuat dari bambu yang dianyam
[4] Mengarah pada kecil dan sempit
[5] Kuali tempat air
[6] “Ayam jago sudah lama berkokok, Ti”
[7] Dipan yang terbuat dari kayu atau bambu
[8] Senang; bahagia
[9] “Sarapannya sudah masak belum?”
[10] “Itu salahmu sendiri, menikah dengan lelaki yang gemar bergaul di malam hari. Sudah berapa kali Bapak ingatkan, berhenti menjadi penghibur malam (penari), mencoreng wajah (nama keluarga)”
[11] Silahkan Pak, ini makanannya, gethuk (makanan ringan yang terbuat dengan bahan utama ketela pohon atau singkong, ntuk penghidangan biasanya ditaburi dengan parutan buah kelapa) dan kopi hitam”
[12] Dengarkan orang tua saat berbicara, Nduk (panggilan untuk anak perempuan). Ini untuk kebaikanmu sendiri. Bukan adat perempuan Jawa menari untuk kesenangan lelaki”
[13] Acak-acakan
[14] Tua
[15] Bungkusan
[16] Bungkusan nasi
[17] Piranti; perlengkapan
[18] Mengarah pada ceria
[19] Semilir; sepoi-sepoi
[20] Terpangkas
[21] Lampu buatan berbahan bakar minyak tanah

Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Antologi Seikat Puisi dan Cerita Pendek: Jejak Hujan. UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, hlm 59-69.
*Melalui editan ulang oleh penulis

You Might Also Like

0 komentar: