Kilah Kidung Sang Jenderal
“Asem” muntapku.
Gerimis menggiringku untuk merebah di bale[1]
besi. Bale usang yang selalu menjeritkan
karat-karat penanda uzurnya. Menelentang. Pikiranku mengawang[2]
ke belakang. Masih kudapati penggalan-penggalan kisahku. Tentang tawa gadis
kecil yang berderai pada langkah-langkahnya saat berlari. Tentang tangis yang
tak pernah menangisi kecilnya hidup. Suara rinai hujan di luar membentur
kerikil-kerikil, mebentuk alunan nada pengiring katup mata untuk segera
memanjangkan awangan-ku ke mimpi.
#
Pendar matahari mengintip dari lubang gedek[3]
kamar. Tepat pada mata kiriku. Rupanya pagi sudah lama beranjak. Aku bangkit
menuju kaca di sudut kamar. Satu-satunya pengisi kamar ciut[4]
selain bale yang tergeletak di
samping kaca, sama uzurnya dengan bale.
Memang.
Kupandangi riasan semalam belum terhapus.
Kulewati Bapak untuk segera mendapati air pancuran kendil[5]
di belakang rumah. Ada perasaan tak enak tertangkap dari ekor mata Bapak
untukku. Tapi segar segera melepaskan keganjilan perasaanku.
“Lagi apa Pak?” tanyaku.
“Jago
wis ngluruk suwe, Ti”[6]
jawab Bapak.
Aku menuju meja tempat kopi, gula, dan
termos. Kalau Bapak sudah mulai dengan kata sindiran, dengan segera kusuguhkan seomplong
kopi hitam untuk beliau. Kularikan kaki keluar dapur menuju kamar. Menata kamar
dan menata hati, menebalkan telinga untuk mendengarkan gerutuan segera.
Kudapati Bapak tengah mengisap pipa,
duduk di lincak[7] bawah
pohon Waru. Waru yang daun hijaunya terlihat sumringah[8]
dibelai oleh matahari. Kudekati Bapak. Ada bau asing meyentuh hidung. Kudapati
warna hitam pekat pada tembakau yang beliau hisap.
“Bapak mau berangkat ke kota tetangga
lagi?” tanyaku.
“Sarapane
wis mateng durung?”[9]
ujar Bapak mengalihkan pembicaraan.
“Pak, apa ke Solo ndak terlalu bahaya?” masih memburu pembicaraan awal.
Sudah berapa kali Bapak ingatkan, mandhek dadi ledhek. Apa gunane? Nyoreng rai,”[10]
balik menyalahkan.
Aku hanya diam, menunduk. Tak ada guna
aku berkukuh membela diri. Bukannya tak pernah. Pernah, tapi sama saja. Aku
tetap menjadi yang tersalah. Bapak memang terlalu keras untuk megubah jalan
pemikirannya. Bagiku berdebat hanya akan menggali luka lebih dalam di hati
Bapak. Aku tahu, kekecewaan Bapak selalu terdengar disetiap kami membahas
tentang tayub. Nama Siti Aisyah yang telah kusandang pemberian Bapak tak pernah
sampai pada maknanya. Dan karena pekerjaanku pula tetangga merendahkan keluarga
kami, tapi aku percaya Gusti Pangeran lebih mengerti. Toh, kami tak makan nasi
dari mereka.
“Monggo
Pak, niki dhaharane, gethuk lan kopi ireng”[11],
sambil duduk.
“Rungoke wong tuwo yen ngomong, Nduk. Iki kanggo
apike awakmu dhewe[12].
Bukan adat perempuan Jawa menari untuk kesenangan lelaki”, tambah Bapak.
Kurelakan kepalaku untuk mengangguk
saja. Tak mungkin kulepaskan pekerjaan. Mau makan darimana kalau bukan tayub.
Menari adalah satu-satunya kesenanganku sedari kecil. Menari adalah
satu-satunya kebisaanku. Menari adalah satu-satunya benang pemanjang hidupku
untuk terasa hidup saat ini. Tapi Bapak tidak paham akan itu. Toh, aku hanya
menari jika ada hajatan besar.
Kupandangi Bapak. Kini, Bapak lebih
sibuk dengan urusannya ke Solo, entah apa yang dikerjakan. Tidak hanya
sehari-dua hari, kadang hingga seminggu baru pulang. Kabar yang kudengar,
banyak pemberontakan terjadi di Solo kota. Pemuda-pemuda banyak berkumpul saat
malam-malam agar tidak terciduk petugas garongan. Bukan hanya itu,
kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya banyak yang dibawa paksa dan sebagian
tak kembali setelahnya. Kabar macam inipun kudengar saat di tayub. Saat hajatan
besar macam inilah justru banyak orang banyak bicara selain untuk berpesta.
#
Keesokannya, Bapak tengah bersiap-siap
untuk berangkat ke Solo. Mungkin kabar-kabar di dekade awal kemerdekaan yang
kudengar kemarin, membuat Bapak terpanggil untuk merapatkan barisan. Kurasakan
jiwa kesatrianya sebagai pemuda pejuang kemerdekaan masih lekat, di setiap
langkahnya, di setiap perkataannya, dan di setiap tatapannya pada seragam lusuh
yang dulu dikenakan. Politik yang mulai semrawut[13] sering
dikeluhkan Bapak. Sedang aku, masih saja berkutat memikirkan kemiskinan yang
menjerat.
Aku kadang khawatir. Bukan apa-apa, teringat
Bapak yang sudah sepuh[14].
Walau umur Bapak tak dapat dikatakan muda dengan gelambir-gelambir pada pipi yang
terayun jika bergerak cepat, sinar mata yang mulai pudar dan sayu, dan
urat-urat pada kulit yang telah menonjol, namun tenaga tak serenta tubuhnya.
Matahari sudah mulai meninggi, Bapak
pamit membawa buntelan[15]
seragam, bothok sego[16],
tak lupa pipa kesayangan beserta uba
rampenya[17], termasuk
campuran hitam pekat yang baru kuketahui candu namanya. Kutanyakan pada orang-orang
pasar saat membeli sayur tadi pagi.
Wajah Bapak terlihat bingar[18]
sekali. Mulutnya komat-kamit seperti merapal mantera yang menjadi kebiasaan
orang-orang tua di Jawa. Kukecup punggung tangannya. Entah, dadaku bergetar
seperti pertama kali aku jatuh dari naik sepeda semasa kecil, dan Bapak yang
membopongku dan tetap menguatkan keberanianku belajar sepeda. Sungguh. Bapak
membalas dengan pelukan hangat. Mataku meleleh. Bagaimanapun kerasnya Bapak,
beliaulah kini satu-satunya orang tua yang kumiliki.
Matahari mulai turun dari atas kepala, tak
lagi menjadikan banjir keringat. Angin silir-silir[19]
menhampiriku yang tengah duduk di lincak pelataran rumah setelah menghantar
Bapak hingga perbatasan desa. Kuedarkan pandangan. Mataku menangkap kupu-kupu
hinggap di atas ranting cangkokan kembang kenanga yang telah kering kerontang tak
kuat menahan pukulan kemarau musim lalu. Sayapnya biru menyala. Seperti nyala
api biru dari sumbu minyak spirtus di petromak milik pak Kades. Birunya terlihat
kontras dengan sekelilingnya.
Kupandangi lamat-lamat. Terlihat sayap
kirinya tak melengkung sempurna, seperti tersobek paksa. Kini mataku
mengelilingi sekitaran. Dan benar, kudapati potongan sayap biru meyala tengah diapit
paruh ayam jago. Ukuran jago yang kulihat tak biasa, lebih besar daripada
umumnya. Jago kembali mengoyak buruannya, jauh hingga kupu-kupu terbang
semampunya. Ah, kupu-kupu yang malang, tak lama hidupmu, sekarang papak[20]
diburu jago.
Suara kepik mulai menggiring permadani
gelap untuk segera memenuhi langit. Mulai terlihat uplik-uplik[21]
menyala pada setiap rumah. Terlihat dari sini, deretan uplik yang tertancap pada tiang-tiang rumah seakan membentuk jaring
laba-laba. Terlihat paling terang rumah pak kades sebagai pusatnya, mirip
seperti semut yang terpilin benang halus laba-laba. Ya, aku dapat melihat
“sarang laba-laba” ini karena rumahku tepat di ujung desa, hanya sejengkal dari
hutan pinggir desa.
Katup mataku enggan menutup, terjagalah
aku malam ini. Kupalingkan wajah ke kanan masih terjaga. Ku alihkan ke kiri
sama pula tak ada bedanya. Mungkin karena desa tetangga tengah ada pesta panen,
maka tidurku terganggu. Sengaja aku tak mengambil pekerjaan. Karena rumah tetap
harus ada penghuninya. Orang Jawa bilang, seberapa lamapun kita pergi, tidur tetaplah
harus di rumah sendiri. Karena bagi kami rumah bukan sekadar rumah. Maka saat
Bapak tak di rumah, kewajibankulah untuk di rumah. Menempati, menemani, dan
menjaganya.
Dari kejauhan mulai kudengar kidung Jawa
mulai ditabuh, penanda malam telah mencapai puncaknya. Tabuhan gendang pengiring
tayub lambat laun terasa berat, dan berat. Dan..
#
Derap kaki berat yang teratur
membangunkan tidur ayamku. Dadaku terasa sesak, seakan udara tiba-tiba terhisap
pusaran langkah kaki. Aku bangun. Melihat ke kanan-kiri, bingung mencari
pemilik langkah kaki. Terdengar orang-orang berteriak menggedor-gedor rumah.
Dengan lantang pemilik langkah-langkah kaki mendobrak pintu dan memasuki rumah.
Entah darimana datangnya, tiba-tiba bahuku terasa berat. Sekuat tenaga
kuhempaskan cengkraman tangan-tangan yang menyergapku kasar. Apa daya, tubuh
tak mampu melawan tenaga para lelaki berseragam ini.
Digelandangnya aku menuju pelataran
rumah. Diluar nyanaku. Seperti akan adanya arak-arak petinggi baru, semua orang
berkumpul. Namun bedanya kini diseret bergantian dengan penuh teriakan dan
tangisan. Tak bisa kusembunyikan degup jantungku yang tak beraturan. Nafasku
mulai berat bersama kengerian pikiran yang mulai menduga-duga. Di depanku,
gadis-gadis desa dibopong paksa. Anak-anak lari mengikuti biyungnya. Para orang
tua renta tersengal-sengal napasnya dan jatuh berulang kali. Lelaki berseragam
tetap acuh tak mengindahkan. Dengan kasar, ia tarik tanganku untuk terus digelandang
paksa, entah kemana. Semua terlihat gelap.
Kami berjalan jauh, melewati semak liar
yang membaret perih di sekujur kaki. Mengelupaskan kulit-kulit tipis dengan
duri kecil semaknya. Anyir darah dan tanah basah mulai tercium bergantian. Terseok-seok
kami melangkah. Tubuhku mulai lemas, entah berapa jauh lagi aku harus menapaki
malam. Kulihat setitik cahaya, semakin dekat… dekat… dan silau. Rupanya silau
dari kendaraan perang mereka.
Dikumpulkannya kami disebuah tanah
kosong penuh rumput liar. Dan baru kusadari kami berada di tengah hutan.
Terduduk kami, atau lebih tepatnya menggelesot di tanah. Terlihat tubuh pria
yang lebih tegap keluar dari balik kendaraan besar layaknya truk. Ia mengenakan
topi dan kacamata hitam, menutupi sorot matanya, yang kuyakini tajamnya
menghujani tubuh kami saat ini.
Ia mulai bicara dan bicara. Kemudian
mulai meneriaki gendang telinga kami. Saat tak mendapat jawaban, suaranya
meninggi dan melengking. Suaranya terus saja terasa nyaring dan keras, hingga
tak dapat lagi kupahami perkataannya. Yang dapat kutangkap hanyalah suara
dentuman bedil yang kian beruntut layaknya
gending - gending Jawa yang terpukul teratur.
Tuhan, apa salahku? Bukan, apa salah
kami? Apakah karena tayub? Karena pajak yang menengkak leher kami belum
dibayarkan? Karena penertiban judi yang tengah marak? Karena candu yang baru di
hisapi kaum lelaki di desa kami? Atau, Bapak?
Dan kulihat kembali kupu-kupu tadi sore
melintas di hadapan teriakan lelaki bertopi penyok sebelah itu, Terdengar
seperti kidung malam sebagai pengiring gending Jawa yang tengah dimainkan.
[1] Kerangka
tempat tidur berbahan besi
[2]
menerawang
[3]
Bilik; dinding yang terbuat dari bambu yang dianyam
[4]
Mengarah pada kecil dan sempit
[5]
Kuali tempat air
[6]
“Ayam jago sudah lama berkokok, Ti”
[7]
Dipan yang terbuat dari kayu atau bambu
[8]
Senang; bahagia
[9]
“Sarapannya sudah masak belum?”
[10]
“Itu salahmu sendiri, menikah dengan lelaki yang gemar bergaul di malam hari.
Sudah berapa kali Bapak ingatkan, berhenti menjadi penghibur malam (penari),
mencoreng wajah (nama keluarga)”
[11]
Silahkan Pak, ini makanannya, gethuk (makanan
ringan yang terbuat dengan bahan utama ketela
pohon atau singkong, ntuk penghidangan biasanya ditaburi dengan parutan
buah kelapa) dan
kopi hitam”
[12]
Dengarkan orang tua saat berbicara, Nduk (panggilan untuk anak perempuan). Ini
untuk kebaikanmu sendiri. Bukan adat perempuan Jawa menari untuk kesenangan
lelaki”
[13]
Acak-acakan
[14]
Tua
[15]
Bungkusan
[16]
Bungkusan nasi
[17]
Piranti; perlengkapan
[18] Mengarah
pada ceria
[19]
Semilir; sepoi-sepoi
[20]
Terpangkas
[21] Lampu
buatan berbahan bakar minyak tanah
Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Antologi Seikat Puisi dan Cerita Pendek: Jejak Hujan. UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, hlm 59-69.
*Melalui editan ulang oleh penulis


0 komentar: