Satir Kursi Dewan

18.19 Arini S Irawati 0 Comments



Judul buku           : Bukan Pasar Malam
Penulis                 : Pramoedya Ananta Toer

Desain sampul      : Ong Hari Wahyu

Penerbit                : Lentera Dipantara

Tahun terbit         : Agustus 2015
Tebal buku           : 106 halaman

ISBN                    : 978-979-3820-03-3

Satir Kursi Dewan
Kehidupan kaum marhaen masih saja asyik untuk diobrolkan. Keterbatasan, kesengsaraan dan kemiskinan acap kali menjadi pembanding status sosial dalam masyarakat. Ketimpangan menjadi sekadar selingan untuk menyegarkan otak para lakon negara. Pun dalam sebuah novel. Seolah penderitaan mewajibkan kesengsaraan dan ketertindasan menjadi hal yang patut untuk ditarik ke permukaan.

Novel Bukan Pasarmalam (Lentera Dipantara: 2006) membalut kesengsaraan akuekstapol yang bergulat dengan rasa penyesalan pada sang Bapak, ia merasa tak teranggap dalam gebyar revolusi. Penyesalan kian melubangi hati dan merontokkan rasa kemanusiaannya saat melihat kondisi Bapaknya yang menyerupai sebilah papan. Sorot mata yang dulu dapat merundukkan kepala orang dengan suara lantang kini cekung dengan lingkar biru yang selalu tertutup rapat. Pun tubuh tegap yang tersisa hanya tulang-tulang terbalut kulit, tergelepak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa, menjadi sumber kekuatan sang Bapak untuk terus mengabdi pada Negara selama tiga puluh tahun sebagai seorang guru, sekalipun anggota perwakilan daerah pernah menjadi tawaran yang merayu. Jiwa nasionalis tertanam kokoh dalam diri Bapak yang menurun pada anaknya (aku) untuk terus memperjuangkan bangsa sebagai gerilyawan pada derap revolusi. Penangkapan dan pemenjaraan tokoh “aku” yang kini bebas pasca kemerdekaan justru menceraikan hubungan batin antara anak dan bapak.

Satir status sosial
Novel yang mendapat penghargaan dari berbagai kalangan baik di luar ataupun dalam negeri ini penuh dengan kritik, seperti jauhnya perbedaan kedudukan antara Presiden, Menteri, Pegawai, dengan mantan tahanan yang justru tak mendapat perhatian atas jasa perjuangan kemerdekaan. Nasib membawa ia beralih jabatan sebagai orang pinggiran.

Pramoedya Ananta Toer ingin memutar cara pandang pembaca lewat sindiran yang mencuatkan permasalahan kebutuhan dasar kehidupan—uang. “Presiden memang orang praktis—tidak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tigapuluh atau limapuluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tigaratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis” (hal.9).

Pasca kemerdekaan yang masih meraba-raba tatanan kehidupan sebagai sebuah bangsa menjadi setting yang apik dalam novel ini. Pondasi pemerintahan yang belum cukup umur akhirnya berbuah polemik kemiskinan, kebodohan dan ketidakpercayaan rakyat untuk berpegangan pada penggede-penggede Negara menjadi warna jalan cerita.

Pengukuhan karakter Bapak yang memilih tak duduk dalam kursi dewan dan lebih bekerja untuk republik melalui kerja politik dan sosial, semakin memperjelas kerusuhan politik dalam negeri. Kerja keras Bapak justru tak mendapatkan balasan layak dari Negara yang diperjuangkan. Pun sekadar untuk ongkos menempati sanatorium untuk melepaskan kutukan TBC ia tak mampu.

Menjadi semakin gamblang satir ketimpangan status sosial dalam novel ini saat dihadapkan pada tokoh “aku” yang sinis dengan ketidakadilan hidup atas perjuang kemerdekaan, “Ya, sekiranya aku punya mobil—sekiranya, kataku—semua ini mungkin takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat; bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai itu” (hal.9).

Kearifan lokal
Tanpa keraguan, dunia telah mengakui kelihaian PAT dalam mengisahkan kehidupan. Relisme menjadi ciri utama. Gundukan tanah merah, sawah, kebun karet, jalanan kereta yang memantai laut Jawa, hutan jati, kijang yang berlari-larian membalut kearifan lokal cerita.

Sedikit berbeda dari novel-novel lainnya, Bukan Pasarmalam menampilkan sedikit aura mistik dalam membingkai alur ceritanya. Kebiasaan dan adat wong ndeso—Blora, kian terasa dalam penggalan kalimat “Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak, yang menempatipun rusak” (hal.44).

Jika dibandingkan dengan orang barat (baca: penjajah) yang pernah menjadi tuan dari tanah mereka, cuilan realitas  wong ndeso—Blora, pasca kemerdekaan mengisahkan kebalikan cara berpikir yang lebih mengandalkan atas kuasa dukun sebagai pengubah haluan takdir daripada logika. “Kemudian keluarlah guru dukun itu. air mukanya jernih seperti kanak-kanak dan matanya berkilau-kilau. Gampang saja aku menebak: ia habis melakukan meditasi” (hal. 50).

Pengarang fasih memberikan ornamen diksi Jawa untuk mempercantik novel yang disuguhkan bagi pembaca. Doklonyo, usada, cendol bunkwee dan sebutan Gus bagi anak laki-laki yang sarat akan rasa sayang yang penuh, mampu menggambarkan latar pedesaan yang menonjolkan sisi emosional pengarangnya sendiri.

Pergulatan batin
Novel setebal 104 halaman ini juga menceritakan sisi lemah tokoh utama. Bagaimana ia terjebak pada rasa bersalah pada surat pedas yang ia kirimkan kepada Bapaknya, namun justru berbalas kata lembut dengan kepingan kisah hidup sang Bapak yang tak pernah ia ketahui. Bagaimana ia sampai hati jika tak mengubah keadaan yang ada.

Novel yang bergenre roman ini lebih menampilkan sisi-sisi kemanusiaan tokoh aku sebagai anak yang dihimpit keterbatasan ekonomi, embel-embel ekstapol di belakang nama, hingga masalah cinta dari seorang istri yang lebih cocok dipanggil satpam.

Pengarang seolah mencerminkan kehidupannya sendiri yang keluar-masuk pembuangan sebagai tahanan tanpa pengadilan dalam novel yang diterbitkan untuk kedua kalinya pada tahun 2006 ini. Sarat dengan kehidupan kaum proletar yang wajib memperjuangkan hidup untuk eksistensinya sebagai manusia.

Novel sastra yang masih cukup baik sebagai rujukan bagi pembaca yang ingin melihat wajah bayi Indonesia dari sisi kaum proletariatnya.

Kehadiran novel ini mampu menampilkan betapa bernilainya sebuah tulisan dalam jejak-jejak eksistensi sebagai manusia sesuai petuah pengarangnya Menulis untuk Keabadian. Warna yang baru di setiap coretan saya kira bukanlah ihwal yang patut untuk didebat. Sekian.

Kudus, 18042014.

NB: Resensi memenangkan Lomba Menulis Resensi Buku Perpustakaan IKIP PGRI Semarang Tahun 2014

You Might Also Like

0 komentar: