Satir Kursi Dewan
Judul buku : Bukan Pasar Malam
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul : Ong Hari Wahyu
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun terbit : Agustus 2015
Tebal buku : 106 halaman
ISBN : 978-979-3820-03-3
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul : Ong Hari Wahyu
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun terbit : Agustus 2015
Tebal buku : 106 halaman
ISBN : 978-979-3820-03-3
Satir Kursi
Dewan
Kehidupan
kaum marhaen masih saja asyik untuk diobrolkan. Keterbatasan, kesengsaraan dan kemiskinan acap kali
menjadi pembanding status sosial dalam masyarakat.
Ketimpangan menjadi sekadar
selingan untuk menyegarkan otak para lakon negara. Pun dalam sebuah novel. Seolah penderitaan mewajibkan kesengsaraan dan
ketertindasan menjadi hal yang patut untuk ditarik ke permukaan.
Novel
Bukan Pasarmalam (Lentera Dipantara: 2006) membalut
kesengsaraan aku—ekstapol yang bergulat dengan rasa penyesalan pada
sang Bapak, ia merasa tak teranggap dalam gebyar revolusi. Penyesalan kian
melubangi hati dan merontokkan rasa kemanusiaannya saat melihat kondisi Bapaknya
yang menyerupai sebilah papan. Sorot mata yang dulu dapat merundukkan kepala
orang dengan suara lantang kini cekung dengan lingkar biru yang selalu tertutup
rapat. Pun tubuh tegap yang tersisa hanya tulang-tulang terbalut kulit, tergelepak
tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa, menjadi sumber kekuatan sang Bapak untuk terus
mengabdi pada Negara selama tiga puluh tahun sebagai seorang guru, sekalipun
anggota perwakilan daerah pernah menjadi tawaran yang merayu. Jiwa nasionalis
tertanam kokoh dalam diri Bapak yang menurun pada anaknya (aku) untuk terus
memperjuangkan bangsa sebagai gerilyawan pada derap revolusi. Penangkapan dan
pemenjaraan tokoh “aku” yang kini bebas pasca kemerdekaan justru menceraikan
hubungan batin antara anak dan bapak.
Satir status
sosial
Novel
yang mendapat penghargaan dari berbagai kalangan baik di
luar ataupun dalam negeri ini penuh dengan kritik, seperti jauhnya perbedaan
kedudukan antara Presiden, Menteri, Pegawai, dengan mantan tahanan yang justru
tak mendapat perhatian atas jasa perjuangan kemerdekaan. Nasib membawa ia beralih
jabatan sebagai orang pinggiran.
Pramoedya Ananta Toer
ingin memutar cara pandang pembaca lewat sindiran yang
mencuatkan permasalahan kebutuhan dasar kehidupan—uang. “Presiden memang orang praktis—tidak seperti mereka yang memperjuangkan
hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga
bukan menteri dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tigapuluh atau
limapuluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tigaratus rupiah. Ini
sungguh tidak praktis” (hal.9).
Pasca kemerdekaan yang masih meraba-raba tatanan
kehidupan sebagai sebuah bangsa menjadi setting yang apik dalam novel ini.
Pondasi pemerintahan yang belum cukup umur akhirnya berbuah polemik kemiskinan,
kebodohan dan ketidakpercayaan rakyat untuk berpegangan pada penggede-penggede
Negara menjadi warna jalan cerita.
Pengukuhan karakter Bapak yang memilih tak duduk dalam
kursi dewan dan lebih bekerja untuk republik melalui kerja politik dan sosial,
semakin memperjelas kerusuhan politik dalam negeri. Kerja keras Bapak justru
tak mendapatkan balasan layak dari Negara yang diperjuangkan. Pun sekadar untuk
ongkos menempati sanatorium untuk melepaskan kutukan TBC ia tak mampu.
Menjadi semakin gamblang satir ketimpangan status
sosial dalam novel ini saat dihadapkan pada tokoh “aku” yang sinis dengan
ketidakadilan hidup atas perjuang kemerdekaan, “Ya, sekiranya aku punya mobil—sekiranya, kataku—semua ini mungkin
takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat; bahwa orang yang punya itu
banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai itu”
(hal.9).
Kearifan lokal
Tanpa keraguan, dunia telah mengakui kelihaian PAT
dalam mengisahkan kehidupan. Relisme menjadi ciri utama. Gundukan tanah merah,
sawah, kebun karet, jalanan kereta yang memantai laut Jawa, hutan jati, kijang
yang berlari-larian membalut kearifan lokal cerita.
Sedikit berbeda dari novel-novel lainnya, Bukan Pasarmalam menampilkan sedikit
aura mistik dalam membingkai alur ceritanya. Kebiasaan dan adat wong ndeso—Blora, kian terasa dalam
penggalan kalimat “Karena itu, barangkali
ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak, yang
menempatipun rusak” (hal.44).
Jika dibandingkan dengan orang barat (baca: penjajah)
yang pernah menjadi tuan dari tanah mereka, cuilan realitas wong
ndeso—Blora, pasca kemerdekaan mengisahkan kebalikan cara berpikir yang
lebih mengandalkan atas kuasa dukun sebagai pengubah haluan takdir daripada
logika. “Kemudian keluarlah guru dukun
itu. air mukanya jernih seperti kanak-kanak dan matanya berkilau-kilau. Gampang
saja aku menebak: ia habis melakukan meditasi” (hal. 50).
Pengarang fasih memberikan ornamen diksi Jawa untuk
mempercantik novel yang disuguhkan bagi pembaca. Doklonyo, usada, cendol bunkwee
dan sebutan Gus bagi anak laki-laki
yang sarat akan rasa sayang yang penuh, mampu menggambarkan latar pedesaan yang
menonjolkan sisi emosional pengarangnya sendiri.
Pergulatan
batin
Novel
setebal 104
halaman ini juga menceritakan
sisi lemah tokoh utama. Bagaimana ia terjebak pada rasa bersalah pada surat pedas yang ia kirimkan kepada
Bapaknya, namun justru berbalas kata lembut dengan kepingan kisah hidup sang Bapak
yang tak pernah ia ketahui. Bagaimana ia sampai hati jika tak mengubah keadaan
yang ada.
Novel yang bergenre roman ini lebih menampilkan
sisi-sisi kemanusiaan tokoh aku
sebagai anak yang dihimpit keterbatasan ekonomi, embel-embel ekstapol di
belakang nama, hingga masalah cinta dari seorang istri yang lebih cocok
dipanggil satpam.
Pengarang
seolah mencerminkan kehidupannya sendiri yang keluar-masuk
pembuangan sebagai tahanan tanpa pengadilan dalam novel yang diterbitkan untuk
kedua kalinya pada tahun 2006 ini. Sarat dengan kehidupan kaum proletar yang
wajib memperjuangkan hidup untuk eksistensinya sebagai manusia.
Novel sastra yang masih cukup baik sebagai rujukan
bagi pembaca yang ingin melihat wajah bayi Indonesia dari sisi kaum
proletariatnya.
Kehadiran novel ini mampu menampilkan betapa
bernilainya sebuah tulisan dalam jejak-jejak eksistensi sebagai manusia sesuai
petuah pengarangnya Menulis untuk
Keabadian. Warna yang baru di setiap coretan saya kira bukanlah ihwal yang
patut untuk didebat. Sekian.
Kudus, 18042014.
NB: Resensi memenangkan Lomba Menulis Resensi
Buku Perpustakaan IKIP PGRI Semarang Tahun 2014


0 komentar: