Kebangkitannya, Kebangkitan Kita Semua
Bicara kebangkitan nasional tentu tidak akan lepas dari peristiwa
berdirinya Boedi Oetomo, yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Inilah yang
menjadi pencetus kelahiran hari kebangkitan nasional di Indonesia.
Boedi Oetomo kala itu tidak hanya sebagai sebuah organisasi pemuda
yang gembar-gembor. Melainkan, cikal bakal berdirinya
sebuah organisasi yang dilajukan oleh para muda-mudi, dimana kelanjutan dari
jiwa mereka bertujuan untuk memerdekakan bangsa. Para tokoh-tokoh nasional
tercerahkan, saat dimulainya pembentukan organisasi seperti ini. Dan disinilah
mulai adanya kemauan untuk terbebaskannya Negara dari kekangan rantai kolonial.
Untuk itu, kita sebagai pemuda Indonesia harus melanjutkan cita-cita mulia
pahlawan bangsa.
Terlepas dari semuanya, kelanjutan dari semangat persatuan yang
digalang oleh para tokoh nasional nyatanya jadi semrawut sekarang ini.
Permasalahan yang luar biasa tapi ditangani oleh orang biasa, itulah
permasalahannya. Pemimpin yang kurang dapat dijadikan topangan bahu bagi
rakyatnya. Ratusan pelayannya di Senayan terkerahkan, namun minim solusi bagi
problematika nasional. Atau bahkan tangan panjang presiden ini banyak yang
merongrong kekayaan rakyat. Uang yang justru digunakan untuk pengalokasian
kepada kesejahteraan rakyat justru masuk kantong-kantong bank-bank luar atas
nama wakil rakyat.
Dewasa ini, kebangkitan nasional justru tak pernah diperingati.
Bahkan, keberadaan hari kebangkitan nasional telah pudar dari ingatan para
penerus bangsa. Pemuda yang akan meneruskan tongkat estafet tujuan dan
cita-cita bangsa, nyata-nyata justru tergerus kemajuan zaman. Termabukkan
dengan kemajuan IPTEK dan NARKOTIKA. Pergaulan metropolitan bukan hal yang tabu
untuk anak pedesaan, gaya hidup serta kesenangan yang semu justru dicari.
Kemana seruan Bung Karno? Menggebu-gebu saat menyatakan pidatonya,
memperingati setengah abad hari kebangkitan nasional di Istana Merdeka.
“Dulu sekadar
satu kriwikan Saudara-saudara. Benar 20 Mei tahun 1908 sekadar adalah satu
kriwikan, tetapi bukan itu jang kita peringati. Jang kita peringati ialah bahwa
20 Mei 1908 itu berisi kemenangan azas, kemenangan satu beginsel. Sebagai
sering-sering saja katakan, gerakan nasional kita itu berdiri di atas satu
beginsel, diatas satu azas, bukan satu gerakkan kosong sekadar ramai-ramai.
Tidak! Kita berdiri diatas satu azas, satu beginsel”
Gelegar sang pimpinan Indonesia pada Peringatan Setengah Abad Hari
Kebangkitan Nasional itu, kini hanya terselip dalam buku pidato presiden
semata. Semangat perjuangan, semangat persatuan, azas kemerdekaan dan beginsel
(prinsip) yang di kumandangkan Bapak Proklamator sia-sia. Perjuangan
kemerdekaan yang penuh dengan tumpah darah dan santunan nyawa demi tanah air,
tercampakkan di tangan para pemuda sekarang ini.
Di seluruh dunia, kebangkitan nasional memiliki arti tersendiri
bagi masing-masing negara. Begitu pula di Indonesia, kebangkitan nasional
adalah sebuah tunas lahirnya suatu kemerdekaan yang di dalamnya terkandung
semangat perjuangan dengan persatuan dan kesatuan. Kebangkitan nasional tidak
hanya dijadikan hari untuk diperingati tetapi sebagai semangat persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat kebhinekaan.
Terlepas dari problematika yang melingkupi pemuda Indonesia,
persatuan dan kesatuan serta prinsip bernegara akan selalu ada dalam jiwa para
penerus bangsa yang ingin menjadikan bangsa ini maju. Eksistensi bangsa yang
beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila.
Semarang, 15 Agustus 2012
Terbit:
Terbit:
Redaksi. 2012. G-Magz. Semarang: Gradasi
*Melalui editan penulis


0 komentar: