Kebangkitannya, Kebangkitan Kita Semua

20.34 Arini S Irawati 0 Comments


Bicara kebangkitan nasional tentu tidak akan lepas dari peristiwa berdirinya Boedi Oetomo, yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Inilah yang menjadi pencetus kelahiran hari kebangkitan nasional di Indonesia.

Boedi Oetomo kala itu tidak hanya sebagai sebuah organisasi pemuda yang gembar-gembor. Melainkan, cikal bakal berdirinya sebuah organisasi yang dilajukan oleh para muda-mudi, dimana kelanjutan dari jiwa mereka bertujuan untuk memerdekakan bangsa. Para tokoh-tokoh nasional tercerahkan, saat dimulainya pembentukan organisasi seperti ini. Dan disinilah mulai adanya kemauan untuk terbebaskannya Negara dari kekangan rantai kolonial. Untuk itu, kita sebagai pemuda Indonesia harus melanjutkan cita-cita mulia pahlawan bangsa.

Terlepas dari semuanya, kelanjutan dari semangat persatuan yang digalang oleh para tokoh nasional nyatanya jadi semrawut sekarang ini. Permasalahan yang luar biasa tapi ditangani oleh orang biasa, itulah permasalahannya. Pemimpin yang kurang dapat dijadikan topangan bahu bagi rakyatnya. Ratusan pelayannya di Senayan terkerahkan, namun minim solusi bagi problematika nasional. Atau bahkan tangan panjang presiden ini banyak yang merongrong kekayaan rakyat. Uang yang justru digunakan untuk pengalokasian kepada kesejahteraan rakyat justru masuk kantong-kantong bank-bank luar atas nama wakil rakyat.

Dewasa ini, kebangkitan nasional justru tak pernah diperingati. Bahkan, keberadaan hari kebangkitan nasional telah pudar dari ingatan para penerus bangsa. Pemuda yang akan meneruskan tongkat estafet tujuan dan cita-cita bangsa, nyata-nyata justru tergerus kemajuan zaman. Termabukkan dengan kemajuan IPTEK dan NARKOTIKA. Pergaulan metropolitan bukan hal yang tabu untuk anak pedesaan, gaya hidup serta kesenangan yang semu justru dicari.

Kemana seruan Bung Karno? Menggebu-gebu saat menyatakan pidatonya, memperingati setengah abad hari kebangkitan nasional di Istana Merdeka.

Dulu sekadar satu kriwikan Saudara-saudara. Benar 20 Mei tahun 1908 sekadar adalah satu kriwikan, tetapi bukan itu jang kita peringati. Jang kita peringati ialah bahwa 20 Mei 1908 itu berisi kemenangan azas, kemenangan satu beginsel. Sebagai sering-sering saja katakan, gerakan nasional kita itu berdiri di atas satu beginsel, diatas satu azas, bukan satu gerakkan kosong sekadar ramai-ramai. Tidak! Kita berdiri diatas satu azas, satu beginsel”

Gelegar sang pimpinan Indonesia pada Peringatan Setengah Abad Hari Kebangkitan Nasional itu, kini hanya terselip dalam buku pidato presiden semata. Semangat perjuangan, semangat persatuan, azas kemerdekaan dan beginsel (prinsip) yang di kumandangkan Bapak Proklamator sia-sia. Perjuangan kemerdekaan yang penuh dengan tumpah darah dan santunan nyawa demi tanah air, tercampakkan di tangan para pemuda sekarang ini.

Namun tidak semua pemuda bangsa Indonesia seperti ini, masih banyak dari mereka yang "waras" akan pita merah (birokrasi) Negara. Hal ini dibuktikan dengan mulai bangkitnya perkembangan IPTEK yang diciptakan oleh penerus negeri. Di Bandung mulai Rabu hingga Sabtu (08-11/08/12), ITB berpartisipasi sebagai salah satu panitia penyelenggara RITech Expo bersama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan berbagai institusi terkait lainnya.  Tema "Inovasi untuk Kemandirian Bangsa" pun diusung sebagai tema utama pada tahun ini. Salah satu hasil yang dipamerkan adalah mobil listrik yang merupakan salah satu energi alternatif selain BBM. Mobil yang dirakit menyerupai mobil balap hasil rakitan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di seluruh dunia, kebangkitan nasional memiliki arti tersendiri bagi masing-masing negara. Begitu pula di Indonesia, kebangkitan nasional adalah sebuah tunas lahirnya suatu kemerdekaan yang di dalamnya terkandung semangat perjuangan dengan persatuan dan kesatuan. Kebangkitan nasional tidak hanya dijadikan hari untuk diperingati tetapi sebagai semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat kebhinekaan.

Terlepas dari problematika yang melingkupi pemuda Indonesia,  persatuan dan kesatuan serta prinsip bernegara akan selalu ada dalam jiwa para penerus bangsa yang ingin menjadikan bangsa ini maju. Eksistensi bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila.

Semarang, 15 Agustus 2012

Terbit:
Redaksi. 2012. G-Magz. Semarang: Gradasi
*Melalui editan penulis


You Might Also Like

0 komentar: