Di Balik Punggung Presiden BEM

23.13 Arini S Irawati 0 Comments

Mungkin banyak yang belum mengetahui sosok Presiden BEM IKIP PGRI Semarang yang teranyar. Novademikian ia akrab disapa, terlanjur berimage sebagai pribadi yang pandai, sntun, dan berwibawa. Tapi siapa sangka bahwa dibalik kesuksesannya sekarang ini, kisahnya begitu berliku.

Sedari kecil ia habiskan masanya di Purwodadi, Grobogan. Tidak diduga ternyata sang presiden kecil gemar bertengkar. "Dulu sangat nakal, teman-teman banyak yang berkelahi dengan saya. Bahkan, dulu, nenek pernah saya lempari batu hingga berdarah," tuturnya.

Perilakunya yang mbeling tersebut dilakukan sedikit banyak karena hilangnya sosok ibu dalam ingatan kecilnya. Pasalnya, SoekarsihIbu Nova, hanya mampu bertahan satu minggu pasca melahirkan Dwi Nova Nugroho yang kala itu berbobot enam kilogram. Ukuran berat bayi yang tergolong diatas rata-rata hingga harus melakukan operasi. Hingga akhirnya, operasi yang kedua untuk pengambilan alat medis yang tertinggal karena terjadi mal praktik atas operasi yang pertama beliau tidak mampu bertahan. Maka nenek yang selama ini telah merawat Nova sejak bayipun akhirnya mengaku bahwa ia bukanlah ibu kandung saat usianya menginjak sepuluh tahun.

Kenakalan masih ia pelihara hingga sekolah menengah pertama. ia masih senang berkelahi dan bermain hingga larut malam. Imbas dari sikapnya, saat di kelas dua ia tidak naik kelas. "Malu sudah pasti, tapi saat itu untungnya ada guru agama yang terus memotivasi untuk tidak menyerah dan dukungan dari keluarga, meskipun sebelumnya dimarahi, " tukasnya. semenjak itu, berkat dukungan dari beberapa pihak, ia berusaha membalik kegagalan menjadi sebuah kesuksesan.


"Sekolah" mulai dibenahi. Selepas dari SMAN 1 Purwodadi ia mencoba meneruskan IPDN Bogor dan STAN, tetapi kekecewaan yang diterima. "Wis, dadi guru wae mbesuk, Nang...!" pesan Sulipah, sang nenek. Tak menyangka ternyata pesan sang nenek itulah yang mengantarkan ia di IKIP PGRI Semarang pada tahun 2009 dengan memilih Pendidikan Guru Sekolah Dasar sebagai jurusannya.


Bercerita tentang pengalaman urban, laki-laki yang terlahir di Grobogan, 19 Nopember 1990 ini mengaku bahwa bulan pertama di Semarang terasa membosankan. Berkaca pada pengalaman se-SMA yang pintar namun kurang dihargai keberadaannya, akhirnya menjadi pelecut untuk berorganisasi. Hingga akhirnya ia terpilih sebagai ketua HIMA PGSD periode 2009/ 2010, berlanjut menjadi ketua BEM FIP 2010/ 2011, sekjen BEM Institut 2011/ 2012. Di Tahun 2012/ 2013 terpilih menjadi Presiden BEM IKIP PGRI Semarang dalam pemilihan pada tanggal 12 Desember 2012. Ia mengalahkan kandidat lainnya dengan mendapatkan suara terbanyak. 

Tidak hanya sukses di organisasi untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, anak kedua dari dua bersaudara inipun melesat pada bidang akademik. Tahun 2010 ia menjadi Runner Up Lomba Karya Tulis Nasional sekaligus mewakili IKIP PGRI Semarang sebagai satu-satunya perguruan tinggi swasta, Juara Harapan 1 Putra Kampus tahun 2010/ 2011, Juara 1 Lomba Kreativitas Pramuka Kontingen Fotografi Se-Jawa-Bali tahun 2011, Juara 1 Mahasiswa Berprestasi FIP tahun 2012, dan masih banyak lagi.

Kendati telah mulai menapaki kesuksesan, ia tetaplah seorang anak yang merindukan sosok ibu. Menurut pengakuannya, ia akan meneteskan air mata jika topik pembicaraan beralih pada ibu saat berbincang dengan teman. Ia hebat dalam prestasi, namun tetap lembut di dalam hati.

"Masa depanmu adalah masa mudamu" adalah penegasan pegangan hidup laki-laki yang gemar berenang tersebut. Ia bercita-cita menjadi guru SD yang profesioal, meneruskan study S-2 dan merencanakan menjadi seorang politikus dan presiden negara untuk jangka panjangnya. Kita amini saja cita-cita mulianya.

Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Suara Kampus: Edisi Desember. IKIP PGRI Semarang, hlm 5.
*melalui editan penulis


You Might Also Like

0 komentar: