Di Balik Punggung Presiden BEM
Mungkin banyak yang
belum mengetahui sosok Presiden BEM IKIP PGRI Semarang yang teranyar. Nova—demikian ia akrab
disapa, terlanjur berimage sebagai
pribadi yang pandai, sntun, dan berwibawa. Tapi siapa sangka bahwa dibalik
kesuksesannya sekarang ini, kisahnya begitu berliku.
Sedari kecil ia
habiskan masanya di Purwodadi, Grobogan. Tidak diduga ternyata sang presiden
kecil gemar bertengkar. "Dulu sangat nakal, teman-teman banyak yang
berkelahi dengan saya. Bahkan, dulu, nenek pernah saya lempari batu hingga
berdarah," tuturnya.
Perilakunya yang mbeling tersebut dilakukan sedikit banyak
karena hilangnya sosok ibu dalam ingatan kecilnya. Pasalnya, Soekarsih—Ibu Nova, hanya
mampu bertahan satu minggu pasca melahirkan Dwi Nova Nugroho yang kala itu
berbobot enam kilogram. Ukuran berat bayi yang tergolong diatas rata-rata
hingga harus melakukan operasi. Hingga akhirnya, operasi yang kedua untuk
pengambilan alat medis yang tertinggal karena terjadi mal praktik atas operasi
yang pertama beliau tidak mampu bertahan. Maka nenek yang selama ini telah
merawat Nova sejak bayipun akhirnya mengaku bahwa ia bukanlah ibu kandung saat
usianya menginjak sepuluh tahun.
Kenakalan masih ia
pelihara hingga sekolah menengah pertama. ia masih senang berkelahi dan bermain
hingga larut malam. Imbas dari sikapnya, saat di kelas dua ia tidak naik kelas.
"Malu sudah pasti, tapi saat itu untungnya ada guru agama yang terus
memotivasi untuk tidak menyerah dan dukungan dari keluarga, meskipun sebelumnya
dimarahi, " tukasnya. semenjak itu, berkat dukungan dari beberapa pihak,
ia berusaha membalik kegagalan menjadi sebuah kesuksesan.
"Sekolah"
mulai dibenahi. Selepas dari SMAN 1 Purwodadi ia mencoba meneruskan IPDN Bogor
dan STAN, tetapi kekecewaan yang diterima. "Wis, dadi guru wae mbesuk,
Nang...!" pesan Sulipah, sang nenek. Tak menyangka ternyata pesan sang
nenek itulah yang mengantarkan ia di IKIP PGRI Semarang pada tahun 2009 dengan
memilih Pendidikan Guru Sekolah Dasar sebagai jurusannya.
Bercerita tentang
pengalaman urban, laki-laki yang terlahir di Grobogan, 19 Nopember 1990 ini
mengaku bahwa bulan pertama di Semarang terasa membosankan. Berkaca pada
pengalaman se-SMA yang pintar namun kurang dihargai keberadaannya, akhirnya
menjadi pelecut untuk berorganisasi. Hingga akhirnya ia terpilih sebagai ketua
HIMA PGSD periode 2009/ 2010, berlanjut menjadi ketua BEM FIP 2010/ 2011,
sekjen BEM Institut 2011/ 2012. Di Tahun 2012/ 2013 terpilih menjadi Presiden
BEM IKIP PGRI Semarang dalam pemilihan pada tanggal 12 Desember 2012. Ia
mengalahkan kandidat lainnya dengan mendapatkan suara terbanyak.
Tidak hanya sukses
di organisasi untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan, anak kedua dari dua
bersaudara inipun melesat pada bidang akademik. Tahun 2010 ia menjadi Runner Up Lomba Karya Tulis Nasional sekaligus
mewakili IKIP PGRI Semarang sebagai satu-satunya perguruan tinggi swasta, Juara
Harapan 1 Putra Kampus tahun 2010/ 2011, Juara 1 Lomba Kreativitas Pramuka
Kontingen Fotografi Se-Jawa-Bali tahun 2011, Juara 1 Mahasiswa Berprestasi FIP
tahun 2012, dan masih banyak lagi.
Kendati telah mulai
menapaki kesuksesan, ia tetaplah seorang anak yang merindukan sosok ibu.
Menurut pengakuannya, ia akan meneteskan air mata jika topik pembicaraan
beralih pada ibu saat berbincang dengan teman. Ia hebat dalam prestasi, namun
tetap lembut di dalam hati.
"Masa depanmu
adalah masa mudamu" adalah penegasan pegangan hidup laki-laki yang gemar
berenang tersebut. Ia bercita-cita menjadi guru SD yang profesioal, meneruskan study S-2 dan merencanakan menjadi seorang
politikus dan presiden negara untuk jangka panjangnya. Kita amini saja
cita-cita mulianya.
Terbit:
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Suara Kampus: Edisi Desember. IKIP PGRI Semarang, hlm 5.
Irawati, Arini Septiyan, 2013. Suara Kampus: Edisi Desember. IKIP PGRI Semarang, hlm 5.
*melalui editan penulis


0 komentar: